[Review] Burung-Burung Manyar: Mencintai Indonesia Dengan Cara Berbeda

Burung-Burung Mayar (dok. anthropologia8.blogspot.com)

Burung-Burung Mayar (dok. anthropologia8.blogspot.com)

Entah kenapa, saya susah melupakan novel ini. Novel yang membuat saya melayang dan terjebak suasana romantis, tapi juga gemas. Saat blog walking, saya membaca sebuah blog yang banyak mengulas tentang tulisan Y.B. Mangunwijaya atau akrab disapa Romo Mangun, termasuk novel Burung-Burung Manyar ini.

Adakah yang mencintai Indonesia lebih dari Teto? Ini pertanyaan retoris, bukan karena kita semua pasti tahu jawabannya, tapi karena terlalu sulit untuk dijawab. Apa itu cinta dan apa itu Indonesia?

Teto merupakan tokoh utama dalam novel Romo. Ia adalah lelaki blasteran Jawa – Belanda. Ayahnya orang Jawa yang jadi tentara Belanda, Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), asli lulusan Breda. Ibunya orang Belanda totok, walaupun Teto tidak yakin. Karena Mami “sangat cantik” dan “tak punya sistem pendidikan yang berdisiplin” (hal. 5).

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, dunia gemilang anak kolong, seperti Teto, berantakan. Ia benci Jepang, terlebih ketika Mami dijebak menjadi gundik tentara Jepang, demi menyelamatkan nyawa Papi. Jepang seakan menjelma menjadi Indonesia merdeka.

Sehingga, Teto menentukan pilihan, mengikuti jejak sang ayah. Ia masuk KNIL, berperang melawan kaum republik. Celakanya, gadis pujaannya, Atik, ada di pihak Indonesia.

Tapi apakah Teto tidak cinta Indonesia? Jangan kacaukan keinginan Teto supaya Belanda tetap bercokol di Indonesia dengan kebencian. Itu sama saja dengan Teto yang mengacaukan gerakan Indonesia merdeka dengan bungkuk pada perintah fasis Jepang. “Suatu bangsa yang sudah berabad-abad hanya membongkok dan minder harus dididik dahulu menjadi kepribadian. Barulah kemerdekaan datang karena durian yang jatuh karena sudah matang” (hal. 89).

Dalam roman yang berlatar belakang Indonesia tahun 1934-1978, Romo menggunakan bahasa luwes, lincah, dan terkadang menggelitik dalam menyampaikan mimpinya tentang Indonesia. Bukan melalui Atik, yang menggebu-gebu dan terbuai dengan kata-kata Soekarno. Justru melalui Teto, yang skeptis namun hormat tergagu di depan Syahrir.

Sebuah Indonesia yang bukan bangsa kuli atau teroris, melainkan bangsa yang cendekia dan menjunjung elan kemanusiaan. Walaupun, diakui saja, menyimpan keragaman nyaris ironi di mana “yang putih dan halus rupa-rupanya (di sini) bisa bersahabat dengan yang kotor dan busuk” (hal. 154).

Mungkin melalui roman ini, Romo ingin menyampaikan pesan bahwa mencintai tanah air tidak dilakukan setiap 17 Agustus, Hari Pahlawan, atau hari bersejarah lainnya. Cinta tanah air bisa dilakukan kapan saja, dengan cara apapun, dan tanpa syarat untuk kehidupan yang lebih baik.

Sekarang sangat mudah membeli novel karya Romo Mangun. Pasalnya, buku-buku beliau diterbitkan ulang oleh sang penerbit. Sehingga, rupa buku masih gres, cover kontemporer, dan harganya sedikit mahal dari versi lama. Tetapi itu tak masalah, jika dibandingkan dengan isi dan pesan novel ini. Grab it fast, people!

Sumber tambahan: Kineruku


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>