3 Hak Cuti Buat Karyawan Perempuan

hak cuti karyawan perempuan

Karyawan perempuan berhak atas tiga hak cuti.

Hi gaes…
Gimana kabarnya? Lagi suntuk? Kerjaan lancar/lelah menghadapi teman yang super duper drama? Kalo memang kayak gitu, mending cuti trus liburan deh… Daripada¬†kerja tapi demotivated, yha kaannn?

Nah, ngomong-ngomong soal cuti, kali ini saya akan membahas HAK-HAK CUTI BUAT¬†KARYAWAN PEREMPUAN. Kenapa harus diomongin? Ya karena penting. Kalo ga penting, ngapain ditulis shay… Tadinya mau ngomongin ini di podcast, tapi males. Karena ngomong butuh energi lebih banyak daripada nulis. (more…)

Jarang posting nih gaes…

Makanan feyverit kita semua: Nasi Padang.

Makanan feyverit kita semua: Nasi Padang.

Puluhan purnama udah timbul tenggelam, tapi tetap saja ku malas posting, gaes. Bingung juga apa yg mau di-posting. Ehh banyak sih, tapi yaaa tetep maleesss.

(more…)

Batik: ikatan kenangan, cinta, dan doa

Tidak ingat, kapan saya mulai menyukai batik.

Dulu, waktu saya masih awal SD, Ayah saya cerita kalau nenek (ibu dari ayah, biasa saya memanggilnya uti, singkatan dari eyang putri) sering membatik. Membuat batik sendiri (tidak membeli) adalah kegiatan yang jamak dilakukan perempuan kala itu. Mungkin sekitar 1940-1950-an lah, karena ayah saya lahir 1950. Saya rasa uti dari ibu saya juga melakukan hal tersebut. Gara-gara terobsesi dengan batik, saya (ngotot) sempat punya lilin malam (wax) dan canting, sampai sekarang masih punya. Rencananya sih, ingin membatik sendiri di rumah seperti yang dilakukan uti.

Tapi rencana tinggal rencana. Soalnya susah nyari kompor dan wajannya (sebenarnya sih malas banget). Keinginan itu terlaksana setelah puluhan tahun. Itupun bisa mbatik karena datang ke suatu acara yang terkait urusan kantor dan dbatik dilakukan pada selembar sapu tangan. Kembali soal kenangan batik, sejak menikah saya mulai mengoleksi kain Nusantara terutama batik. Entah kenapa, saya seperti punya keterikatan dengan batik. Bahkan saya punya batik estafet, maksudnya batik yang dimiliki uti – dikasih ke ibu saya – lalu diberikan ke saya. Tp kain itu nggak utuh lagi, malah saya jadikan dress.

Dalam rangka Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2016, saya akan menulis soal batik, khususnya Batik Lasem. Tulisan ini saya buat sebagai tanda hormat kepada leluhur, seniman batik, pencinta dan kolektor batik, hingga penjual batik.
(more…)

Kerja Tanpa Performance Appraisal. Mungkinkah?

Kira-kira, kerja di dunia akting ada performance appraisal atau nggak ya? Foto: E! news.

Tulisan kali ini (sedikit) berhubungan tentang Mardi Wu, CEO Nutrifood. Tidak sepenuhnya tentang ia dan perusahaannya. Tapi bisa dibilang ia banyak memberikan insight dalam tulisan ini.

Ketika mampir di kantor tempat saya bekerja, ia mengatakan bahwa Nutrifood telah meniadakan performance appraisal (penilaian kerja) terhadap karyawannya! Kok bisa? Tidak ada target atau sistem pengukuran kualitas dan kuantitas pekerjaan? Bagaimana menentukan bonus atau kenaikan gaji? Lalu ia menjelaskan panjang lebar. Tapi saya tak mau berhenti di situ, saya googling soal ‘companies ditching PA‘. Ketemulah artikel di Harvard Business Review atau hbr.org.

Menurut HBR, beberapa tahun lalu tak banyak perusahaan yang menghapus sistem PA atau performance curve atau forced ranking terhadap kaum proletar. Tiba-tiba perusahaan teknologi kondang asal Amerika, Juniper Networks dan Adobe Systems, meniadakan review tahunan untuk semua karyawannya pada 2011 dan 2012. Awal 2015, lebih dari 30 perusahaan –memiliki lebih dari 1,5 juta kaum proletar– mengikuti langkah Juniper. Misalnya, Microsoft, Dell, General Electric, Accenture, Gap, Intel, Sears, dan masih banyak lagi.

“Nutrifood cukup aneh. Kita banyak dijadikan orang untuk benchmarking, padahal tidak punya sistem performance appraisal. Apa iya bisa jalan tanpa PA?” ujar Mardi.
(more…)

[Review] My Stupid Boss, antara film dan noda

Sudah lama sekali saya ingin nulis soal My Stupid Boss (MSB). Salah satu novel canda (noda) yang sangat saya suka sekali! Tapi karena alasan klasik -malas- jadi tertunda-tunda deh. Dalam rangka memeriahkan MSB 5 dan film MSB, akhirnya niat saya terkumpul untuk menulis MSB. Oks, dimulai dari noda dulu, baru filmnya ya.

Noda MSB
Saya tahu MSB dari teman -yang entah sekarang dia di mana- pada 2008 akhir atau 2009 awal. Nah, karena waktu itu belum punya duit buat beli buku (maklum habis lulus kuliah, saya kerja serabutan jadi duit pas-pasan), jadi saya baca noda di Gramedia. Waktu baca, saya ngakak-ngakak sendiri, sampai teman saya nanya, “Baca apaan sih?” Etapi, akhirnya saya beli nodanya, loh. Soalnya sudah kerja dan cukup mapan gitu deh. Mosok baca buku gratis mulu, di Gramedia pula.

MSB adalah noda yang ditulis oleh Diana -bukan nama sebenarnya-, warga Indonesia yang terpaksa bekerja di Malaysia. Ini bukan human trafficking, tapi karena harus mengikuti lokasi pekerjaan sang suami. Di sana, ia kerja di perusahaan milik orang Indonesia. Ia menjadi Kerani (bahasa Melayu: administrasi). Jangan harap si pengusaha baik -mengingat sesama Indonesia yah!- justru sebaliknya. Diana harus melalui siksaan bertubi-tubi. Ia wajib mengatasi keanehan dan kejanggalan di perusahaan, termasuk berhubungan dengan karyawan dan tentu saja si aneh Bossman. Anehnya siksaan nan menyakitkan itu malah lucu bin menjengkelkan pangkat dua ketika sudah menjadi MSB. Oiya, ia menggunakan Chaos@work sebagai nama penulis.
(more…)