Kehendak Orang Tua Vs. Cita-cita Anak

nanski joewono

David Beckham dan istrinya, Victoria, mengajarkan keempat anak mereka untuk bekerja keras, disiplin, sportif dalam berbagai bidang. David membebaskan cita-cita anak-anak mereka, yang pasti mereka tidak mudah mendapatkan uang jajan. Mereka harus bekerja part time di gerai milik sang ibu atau internship di kedai kopi. Foto: Indiana Express.

Beberapa hari lalu, kantor tempat saya kerja (nama kantor dirahasiakan ya…) kedatangan Rene Suhardono. Ia adalah konsultan SDM (sumber daya manusia), penulis buku, plus netizen kondang di jagat Twitter. Ia banyak ngomong soal karier, renjana (passion), kemahiran, hingga penguasaan seseorang (karyawan) terhadap sesuatu.

Tetapi, dalam pembicaraan di atas, saya tertarik soal renjana yang dipaksakan. Biasanya hal ini terjadi antara kehendak orang tua versus cita-cita anak. Salah satu orang yang menjadi “korban” kehendak orang tua adalah saya.

“Hati-hati terhadap orang tua. Saat Anda sudah menginstruksikan ke anak, bahwa mereka akan melakukannya sesuatu, sebagai anak kecil itu sebuah instruksi,” kata pemilik akun @ReneCC.
(more…)

Tipe Netizen yang Menyebalkan hingga Menyenangkan, Anda Termasuk yang Mana?

nanskijoewono

Unggahan foto seperti menu makan ini justru lebih populer dibanding pemiliknya

“Ini kan akun gue, jadi gue bebas mau share apa aja,” kata seorang teman menyebalkan kepada saya.

Saya yang mengkritik postingannya –postingan yang saya anggap “memicu” kebencian– cuma bisa diam. Males komentar lagi, sis.

Ya, beginilah era perkembangan teknologi diikuti pamor media sosial (medsos — Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat, dll) makin nge-hits. Ada banyak netizen –dalam hal ini diartikan sebagai pengguna medsos– yang memanfaatkan medsos secara benar. Tapi tak sedikit yang gagap dan bodoh. Mereka pikir, mereka bebas melakukan apa saja dengan medsos. Padahal tak segampang itu, justru penggunaan medsos atau platform digital lainnya membutuhkan tanggung jawab ekstra.

Semakin teknologi berkembang dan memudahkan manusia, tuntutan bertanggung jawab semakin berat ~ Nansays.

(more…)

Marketing Strategy of Media oleh Samuel Mulia

nanskijoewono

Banyak orang yang mengkritik Gwyneth Paltrow, kata mereka produk Goop sangat mahal. Tetapi ia tak peduli hal tersebut, Goop tetap berjalan dan sudah memiliki target market. Goop telah menentukan brand of positioning. Foto: Vanity Fair

Beberapa bulan lalu, kantor saya bekerja (nggak udah disebutin namanya :D) kedatangan penulis fashion, lifestyle, pemimpin redaksi, dan penikmat kuliner, Samuel Mulia. Bagi Anda pembaca Kompas cetak Minggu pasti tahu dong lelaki tersebut?

Kedatangan cowok langsing itu — sebenarnya — untuk mengajari kami — saya dan teman-teman sebagai penulis — soal ‘how to write fashion articles‘. Tetapi dalam kenyataannya, justru ia menyampaikan hal lain, yang tak kalah penting sebelum menulis. Lebih tepatnya tentang strategi pemasaran media atau Marketing Strategy of Media.

“Tiga hal yang saya selalu terapkan dalam pekerjaan adalah KPK,” om Samuel membuka pembicaraan.

Eits, ini bukan soal Komisi Pemberantasan Korupsi loh ya. Tetapi KPK di sini adalah Know you brand, Personify, Know your audience. Karena kantor saya itu media, jadi membahas soal meja redaksi dan marketing — di banyak perusahaan media, kedua meja itu sering nggak klop, berbenturan, dan memicu perpecahan perusahaan! Lebay sih, tetapi ya begitulah adanya.
(more…)

[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (2)

nanski joewono

Pintu masuk Lawang Ombo dari sisi samping. Konon, bangunan ini berdiri sekitar 1830-an dan di dalamnya terdapat nisan tertulis 1855.

Setelah menulis “Membongkar” Rumah Indis di Lasem 1, saya bakal melanjutkan bagian kedua. Pada bagian ini akan membahas (jangan berpikir pembahasan serius ya…) rumah indis – tentunya percampuran rumah gaya Fujian, Tiongkok – berdasarkan keterangan mbak Agni Malagina di National Geographic.

Lawang Ombo
Beberapa referensi yang saya baca, Lasem tak hanya dikenal sebagai kota bersejarah atau warisan dunia. Menurut para peneliti – terutama peniliti budaya dan sejarah – Lasem juga terkenal sebagai kota candu (opium) – bahasa keren sekarang narkoba. Pasalnya, Lasem merupakan kota perdagangan candu terbesar di Hindia Belanda era abad 18-19 M, diperkirakan rumah dibangun 1860-an. Pemilik bernama Liem Kok Sing, saudagar kaya raya. Salah satu bisnisnya adalah penyelundupan candu dan rumah Liem ini besar dan lebar.
(more…)

[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (1)

nanananski

Rumah bergaya Indis banyak dijumpai di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sudah sejak lama, saya ingin sekali ke Lasem. Keinginan ini sudah ada pasca melihat Ca Bau Kan, film karya Nia Dinata. Salah satu lokasi syuting filmnya di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Nah, mumpung ada cuti akhir tahun, saya dan suami merealisasikan untuk Jalan-jalan ke Lasem. Mungkin destinasi Lasem terdengar aneh, tetapi banyak orang yang ke sini loh. Nggak percaya? Cek saja #lasemheritage dan #savelasem di Twitter atau Instagram.

Oks, perjalanan kami saya ke Lasem diawali dengan menghubungi tour guide. Ia adalah mas Pop (Baskoro), putera daerah asal Rembang, yang punya segudang cerita tentang Rembang dan Lasem. Rugi kalo nggak ikut open trip mas Pop.

Saya berangkat dari rumah ke terminal Rawamangun dengan tekad kuat dan optimisme pada malam Natal (24/12/2015). Sesampainya di sana, nasib saya terkatung-katung. Jadwal berangkat pukul 16.00, motor menjadi 20.00 WIB. Setelah itu, bus Pahala Kencana yang saya tumpangi (Jakarta-Malang) menjemput penumpang di Bekasi dan berhenti lama sekali. Usut punya Usut, sepanjang tol Cipali/Cikampek macet total. Jadi, kru bus lebih baik berhenti sejenak dari kemacetan the longest weekend daripada terjebak nostalgia di jalan raya. Eww.
(more…)