Karyawan (Sibuk) Bisa Terapkan Pola Hidup Sehat, Kok!

Anda tak akan menyadari kesehatan itu penting sebelum jatuh sakit ~ Nansays.

Pada 2012 atau 2013, saya pernah menyambangi sebuah perusahaan yang memproduksi dan menjual produk penunjang kesehatan di Pulogadung. Saat itu saya masih bekerja di kantor lama. Ketika ngobrol dengan beberapa karyawan, saya jadi berpikir, “Wah kesehatan karyawan di sini diperhatikan. Enak nih.” Bagaimana tidak enak, kalau ada karyawan yang kegemukan difasilitasi olahraga (tersedia di kantor) dan boleh menikmati susu rendah lemak (produksi mereka juga sih).

Etapi, ada seorang teman yang bilang kalau kerja di sana ada plus-minus. Ya, namanya juga perusahaan, sama seperti manusia, pasti ada nilai lebih dan kurang. Nggak usah diperdebatkan soal itu, kalau diulas bakal panjang. Saya fokus pada kesehatan karyawan yang diterapkan oleh Nutrifood. Ya, kali ini saya membahas pola hidup sehat yang diterapkan Nutrifood untuk karyawannya. Anda tahu kan apa saja produk mereka?

Tropicana Slim, Nutrisari, HiLo, L-Men, dan teman-temannya merupakan jenama Nutrifood. Perusahaan eksis sejak 1979 dengan produk andalan gula jagung rendak kalori dan sekarang telah memiliki beberapa jenama. Kalau nggak salah ya, kalau salah, tolong tinggalkan komentar di kolom bawah, sis. Kebetulan beberapa hari lalu, CEO Nutrifood, Mardi Wu, mampir ke kantor tempat saya bekerja. Meski ia lebih banyak membahas soal employee engagement dan non-performance appraisal, ia mau membeberkan soal kesehatan karyawan. Kesehatan termasuk engagement juga kan, ya?
(more…)

Cerita tentang Gluten Free Cookies

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengurangi konsumsi gluten. Tapi apa daya, saya lemah iman. Kalau melihat fire floss, pizza, atau cheesecake, langsung hap-hap-hap. Eits, ini bukan kasus Saiful Jamil ya! No.

Gluten adalah campuran protein yang ditemukan pada gandum (termasuk tepung terigu (roti, cake, sereal, pasta, pizza) ya, sis) dan padi-padian seperti barley (jali), rye (gandum hitam), oats, triticale, dan spesies plus hibrida sejenisnya. Nggak masalah kan dengan semua itu? Nggak sih. Tapi, makanan berbahan baku gandum dkk. susah dicerna.

Menurut University of Leon, Spanyol (bodycology.com), bakteri baik yang hidup di usus dapat memecah protein gluten, tetapi tidak semua orang memiliki bakteri tersebut. Karena konsumsi antibiotik, ekosistem tubuh bagian dalam terluka, dan stress bisa menghancurkan semuanya, semua. Lebay. Nah, protein gluten ini resisten terhadap enzim pencernaan. Akibatnya, seseorang akan menderita penyakit pencernaan, kembung, mual, diare, poop bau menyengat (kalau dipikir, semua poop kan bau), dan sensitif terhadap gluten. Gluten juga dikaitkan pada perilaku meluap-luap anak autis. Di samping itu, sistem pencernaan anak autis dengan non-autis itu berbeda. Kalau Anda ada pengalaman dengan diet gluten untuk anak autis, tolong tulis di kolom komentar. Agar kita bisa saling tukar informasi ya, sis. By the way, tak masalah jika Anda masih mengonsumsi makanan bergluten sampai sekarang. Namun, tak semua orang bisa menikmati karena kondisi kesehatannya.
(more…)

Kehendak Orang Tua Vs. Cita-cita Anak

nanski joewono

David Beckham dan istrinya, Victoria, mengajarkan keempat anak mereka untuk bekerja keras, disiplin, sportif dalam berbagai bidang. David membebaskan cita-cita anak-anak mereka, yang pasti mereka tidak mudah mendapatkan uang jajan. Mereka harus bekerja part time di gerai milik sang ibu atau internship di kedai kopi. Foto: Indiana Express.

Beberapa hari lalu, kantor tempat saya kerja (nama kantor dirahasiakan ya…) kedatangan Rene Suhardono. Ia adalah konsultan SDM (sumber daya manusia), penulis buku, plus netizen kondang di jagat Twitter. Ia banyak ngomong soal karier, renjana (passion), kemahiran, hingga penguasaan seseorang (karyawan) terhadap sesuatu.

Tetapi, dalam pembicaraan di atas, saya tertarik soal renjana yang dipaksakan. Biasanya hal ini terjadi antara kehendak orang tua versus cita-cita anak. Salah satu orang yang menjadi “korban” kehendak orang tua adalah saya.

“Hati-hati terhadap orang tua. Saat Anda sudah menginstruksikan ke anak, bahwa mereka akan melakukannya sesuatu, sebagai anak kecil itu sebuah instruksi,” kata pemilik akun @ReneCC.
(more…)

Tipe Netizen yang Menyebalkan hingga Menyenangkan, Anda Termasuk yang Mana?

nanskijoewono

Unggahan foto seperti menu makan ini justru lebih populer dibanding pemiliknya

“Ini kan akun gue, jadi gue bebas mau share apa aja,” kata seorang teman menyebalkan kepada saya.

Saya yang mengkritik postingannya –postingan yang saya anggap “memicu” kebencian– cuma bisa diam. Males komentar lagi, sis.

Ya, beginilah era perkembangan teknologi diikuti pamor media sosial (medsos — Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat, dll) makin nge-hits. Ada banyak netizen –dalam hal ini diartikan sebagai pengguna medsos– yang memanfaatkan medsos secara benar. Tapi tak sedikit yang gagap dan bodoh. Mereka pikir, mereka bebas melakukan apa saja dengan medsos. Padahal tak segampang itu, justru penggunaan medsos atau platform digital lainnya membutuhkan tanggung jawab ekstra.

Semakin teknologi berkembang dan memudahkan manusia, tuntutan bertanggung jawab semakin berat ~ Nansays.

(more…)

Marketing Strategy of Media oleh Samuel Mulia

nanskijoewono

Banyak orang yang mengkritik Gwyneth Paltrow, kata mereka produk Goop sangat mahal. Tetapi ia tak peduli hal tersebut, Goop tetap berjalan dan sudah memiliki target market. Goop telah menentukan brand of positioning. Foto: Vanity Fair

Beberapa bulan lalu, kantor saya bekerja (nggak udah disebutin namanya :D) kedatangan penulis fashion, lifestyle, pemimpin redaksi, dan penikmat kuliner, Samuel Mulia. Bagi Anda pembaca Kompas cetak Minggu pasti tahu dong lelaki tersebut?

Kedatangan cowok langsing itu — sebenarnya — untuk mengajari kami — saya dan teman-teman sebagai penulis — soal ‘how to write fashion articles‘. Tetapi dalam kenyataannya, justru ia menyampaikan hal lain, yang tak kalah penting sebelum menulis. Lebih tepatnya tentang strategi pemasaran media atau Marketing Strategy of Media.

“Tiga hal yang saya selalu terapkan dalam pekerjaan adalah KPK,” om Samuel membuka pembicaraan.

Eits, ini bukan soal Komisi Pemberantasan Korupsi loh ya. Tetapi KPK di sini adalah Know you brand, Personify, Know your audience. Karena kantor saya itu media, jadi membahas soal meja redaksi dan marketing — di banyak perusahaan media, kedua meja itu sering nggak klop, berbenturan, dan memicu perpecahan perusahaan! Lebay sih, tetapi ya begitulah adanya.
(more…)