[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (2)

nanski joewono

Pintu masuk Lawang Ombo dari sisi samping. Konon, bangunan ini berdiri sekitar 1830-an dan di dalamnya terdapat nisan tertulis 1855.

Setelah menulis “Membongkar” Rumah Indis di Lasem 1, saya bakal melanjutkan bagian kedua. Pada bagian ini akan membahas (jangan berpikir pembahasan serius ya…) rumah indis – tentunya percampuran rumah gaya Fujian, Tiongkok – berdasarkan keterangan mbak Agni Malagina di National Geographic.

Lawang Ombo
Beberapa referensi yang saya baca, Lasem tak hanya dikenal sebagai kota bersejarah atau warisan dunia. Menurut para peneliti – terutama peniliti budaya dan sejarah – Lasem juga terkenal sebagai kota candu (opium) – bahasa keren sekarang narkoba. Pasalnya, Lasem merupakan kota perdagangan candu terbesar di Hindia Belanda era abad 18-19 M, diperkirakan rumah dibangun 1860-an. Pemilik bernama Liem Kok Sing, saudagar kaya raya. Salah satu bisnisnya adalah penyelundupan candu dan rumah Liem ini besar dan lebar.
(more…)

[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (1)

nanananski

Rumah bergaya Indis banyak dijumpai di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sudah sejak lama, saya ingin sekali ke Lasem. Keinginan ini sudah ada pasca melihat Ca Bau Kan, film karya Nia Dinata. Salah satu lokasi syuting filmnya di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Nah, mumpung ada cuti akhir tahun, saya dan suami merealisasikan untuk Jalan-jalan ke Lasem. Mungkin destinasi Lasem terdengar aneh, tetapi banyak orang yang ke sini loh. Nggak percaya? Cek saja #lasemheritage dan #savelasem di Twitter atau Instagram.

Oks, perjalanan kami saya ke Lasem diawali dengan menghubungi tour guide. Ia adalah mas Pop (Baskoro), putera daerah asal Rembang, yang punya segudang cerita tentang Rembang dan Lasem. Rugi kalo nggak ikut open trip mas Pop.

Saya berangkat dari rumah ke terminal Rawamangun dengan tekad kuat dan optimisme pada malam Natal (24/12/2015). Sesampainya di sana, nasib saya terkatung-katung. Jadwal berangkat pukul 16.00, motor menjadi 20.00 WIB. Setelah itu, bus Pahala Kencana yang saya tumpangi (Jakarta-Malang) menjemput penumpang di Bekasi dan berhenti lama sekali. Usut punya Usut, sepanjang tol Cipali/Cikampek macet total. Jadi, kru bus lebih baik berhenti sejenak dari kemacetan the longest weekend daripada terjebak nostalgia di jalan raya. Eww.
(more…)

Tom Hardy: Antara Locke, Legend, dan The Revenant

Tom Hardy/mashable.com

Tom Hardy saat menghadiri premiere film The Revenant.

Sudah sebulan lebih, saya melupakan blog tercinta ini. Sebenarnya, saya nggak sibuk banget, tetapi selalu ada saja sandungan setiap kali ingin nge-blog. Paling mentok, saya mengisi laman Tumblr. Silakan kalau ingin buka akun Tumblr saya.

Well, kali ini saya ingin nge-blog soal film. Jangan mengharapkan tulisan ini seperti kritik film loh, jauh. Jauh dari harapan. Ini cuma tulisan iseng dari penggemar film, terutama film yang dibintangi aktor ganteng bin karismatik seperti Tom Hardy. Yup, sejak membintangi Inception (2010), nama Tom Hardy melambung tinggi. Apalagi setelah muncul dalam trilogi Batman, The Dark Knight Rises, Tom seperti roket. Padahal sebelumnya, ia sudah kerap muncul di serial televisi di UK dan US.

Karena aktingnya yang mengintimidasi, saya iseng ingin menulis tentang British actor ini. Saya menyoritu film Legend (2015), The Revenant (2015), dan Locke (2013). Siapa yang sudah nonton ketiganya? Film tersebut sangat luar biasa, bukan hanya Tom tetapi parapemain, naskah, sutradara, dan tentu saja kerja keras kru di belakang layar.
(more…)

[Jalan-jalan] Menikmati Lasem dari Mulut dan Perut

Ke manapun destinasi saya, makan adalah kuncinya. Apalagi menunya asli daerah setempat, jangan sampai melewatkan kesempatan emas itu! Dan, kuliner daerah yang belum lama ini saya cicipi adalah makanan khas Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Jarak Lasem ke Jakarta tidak pendek. Berdasarkan Google Maps, perlu waktu 10 jam 45 menit untuk menempuh jarak 595 kilometer. Meskipun hal itu mustahil di tengah kemacetan biadab jalur Pantai Utara (Pantura). Belum lagi, jalanan dikuasai oleh truk dan bus AKAP. What a crazy damn thing.

Perjalanan saya menuju Lasem menggunakan jasa transportasi publik, bus Pahala Kencana. Butuh waktu 22 jam untuk sampai tujuan. Perjalanan kali ini sungguh melelahkan.
(more…)

[Cerita Suami] Melihat Indonesia dari “Jauh”

IMG-20141004-00329

Cerita ini saya dapat dari suami beberapa bulan bahkan tahun yang lalu. Kebetulan ceritanya masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kenaikan BBM.

Jadi gini ceritanya…..

Suami saya yang sudah blusukan ke Sumatera dan Nusa Tenggara Timur cerita kalau mau melihat Indonesia jangan berpatokan ke (DKI) Jakarta atau pulau Jawa. Kenapa?

Di Jawa itu enak. Semua yang dibutuhkan ada. Rata-rata infrastruktur sudah baik. Semua jenis makanan ada di sini. Semua jasa yang nggak terpikirkan tersedia. Dari harga murah sampai mahal juga ada. Itu kata suami.

Coba bandingkan…waktu BBM masih Rp 4,5 ribu, di Nipah Panjang, Jambi sudah Rp 10 ribu, dan di Atambua, NTT mencapai Rp 12 ribu! Padahal pekerjaan mereka petani, penyadap karet, tukang ojek, ya tentu saja biaya hidup di sana agak tinggi dibandingkan daerah Jawa. Tapi, di Nipah Panjang banyak ikan dengan harga terjangkau!
(more…)