[Cerita Suami] Melihat Indonesia dari “Jauh”

IMG-20141004-00329

Cerita ini saya dapat dari suami beberapa bulan bahkan tahun yang lalu. Kebetulan ceritanya masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kenaikan BBM.

Jadi gini ceritanya…..

Suami saya yang sudah blusukan ke Sumatera dan Nusa Tenggara Timur cerita kalau mau melihat Indonesia jangan berpatokan ke (DKI) Jakarta atau pulau Jawa. Kenapa?

Di Jawa itu enak. Semua yang dibutuhkan ada. Rata-rata infrastruktur sudah baik. Semua jenis makanan ada di sini. Semua jasa yang nggak terpikirkan tersedia. Dari harga murah sampai mahal juga ada. Itu kata suami.

Coba bandingkan…waktu BBM masih Rp 4,5 ribu, di Nipah Panjang, Jambi sudah Rp 10 ribu, dan di Atambua, NTT mencapai Rp 12 ribu! Padahal pekerjaan mereka petani, penyadap karet, tukang ojek, ya tentu saja biaya hidup di sana agak tinggi dibandingkan daerah Jawa. Tapi, di Nipah Panjang banyak ikan dengan harga terjangkau!

Man, mereka tidak beli BBM bersubsidi lho. Mereka beli BBM yang ngucur dari tanki segede gaban Pertamina. Entah itu BBM subsidi tapi harga dinaikkan oleh oknum atau BBM harga industri.

BBM di Papua? Udah lah, jangan tanya lagi. Tingggiii sekali. Ada yang bilang Rp 40 ribu, Rp 50 ribu, sampai Rp 60 ribu. Kalau dipikir sih wajar ya, karena Papua itu propinsi penghasil emas berkualitas dunia. Sayangnya, masyarakat asli Papua hanya diperalat oleh sistem – pemerintah dan pelaku industri. Jadi mereka terkesan cuma tahu duit, duit, dan duit. Harusnya, pemerintah dan pelaku usaha memajukan pendidikan orang Papua supaya pintar tanpa menghilangkan identitas daerahnya.

Pendidikan untuk menghadapi tantangan global. Jadi orang Papua bisa bersaing dengan orang Jawa, Sumatera, bahkan orang asing sekalipun dalam bekerja. Kalau seperti itu bukan tidak mungkin Freeport diakuisisi pemerintah Indonesia dan orang Papua yang memimpinnya.

Kembali lagi ke cerita suami. Menurutnya, banyak daerah di Indonesia yang harus diperbaiki. Misalnya transportasi air (lewat sungai) dihidupkan lagi, karena perjalanan dari Nipah Panjang ke Air Hitam Laut PP lebih mudah dijangkau dan lebih dekat dibanding via jalan darat. Pembangunan tenaga listrik, agar listrik bisa dinikmati seluruh warga. Begitu juga dengan infrastruktur teknologi alias internet. Sekolah diperbaiki dan diperbanyak, juga guru-gurunya. Pokoknya banyak banget deh pekerjaan rumah pemerintah berkaitan pembangunan fisik dan masyarakat di Indonesia.

Ia merasa aneh saat temannya – orang daerah – menganggap Jakarta bagus dan maju. Dan ingin pergi ke sini. Jakarta (dan kota di Jawa) masih dijadikan magnet “pengeruk” pundi-pundi rupiah. Kalau banyak orang daerah ke sini, berarti semakin banyak pula beban Jakarta dkk. Beban jalan, lahan, air sehingga menyebabkan kemacetan, banyak sampah, perumahan makin padat, sumpek, panas; dll.

Nah, kalau sudah seperti itu siapa yang harus tanggung jawab?

Saya termasuk orang yang tidak setuju kalau BBM naik, tapi saya harus bersyukur tinggal di pulau Jawa. Semuanya serba ada, enak, dan praktis. Tapi jengkel juga sih, kenapa sebelum BBM naik, pemerintah tidak mempersiapkan energi terbarukan untuk angkutan kota? Bagaimana dengan BBG untuk semua angkot? Bagaimana jika BBM subsidi khusus untuk angkot?

Karena kondisi sekarang itu angkot pakai BBM subsidi dan BBM naik dan tarif angkot naik dan gaji belum naik. Naik busway yang pakai BBG sering terjebak macet. Duh!

Kapan saya bisa merasakan pengalihan subsidi BBM ke bidang lain? Kapan? Kapan juga gaji naik?

Oh, Indonesia.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>