[Jajan] Sambal Tumpang: Tempe Semangit dan Kenangan Kota yang Hilang (1)

Salah satu makanan favorit orang Indonesia adalah Tempe. Setuju? Nggak? Ya sudahlah, saya tetap membahas tempe. Menurut saya, tempe ini salah satu bahan pangan yang multifungsi. Selain buat bahan dasar kecap dan tauco, tempe sering dijadikan gorengan, direbus enak, disambal tambah juga enak, disayur oke, bahkan tempe bisa dibuat kukis/cookies. Apapun olahan tempe, hasilnya pasti enak. Asal bumbu dan cara masaknya benar.

Nah, salah satu olahan tempe favorit saya adalah Sambal Tumpang. Hah makanan apa itu?

Buat orang Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, atau pernah tinggal di sana, pasti sudah tahu rupa dan rasa sambal (orang Jawa biasa nyebut ‘sambel’) tumpang. Makanan ini terbuat dari tempe mentah tua (tempe semangit yang berbau sangit yang dikeluarkan tempe tua mentah, nah loh, mudeng nggak kira-kira?) yang dilumatkan dicampur bumbu yang terdiri dari cabai merah, bawang merah dan putih, kencur, daun salam dan jeruk, lengkuas, gula, garam, dan lainnya, plus santan. Semua bahan dicampur, aduk-aduk seperlunya, lalu biarkan matang. Ada juga yang menambahkan tahu, tempe (nggak semangit), telur, dan cabai utuh ke dalam sambal tumpang. Katanya sih, biar mantap.

Paling enak mencicipi sambel tumpang dengan nasi hangat, sayuran matang (bayam, kecambah, kacang panjang, kembang turi, dll), dan kerupuk karak (berasal dari nasi puli, biasanya puli dibikin menggunakan bleng/boraks, mungkin sekarang sudah berkurang penggunaan bleng, tapi aroma bleng khas sih, haha). Di Boyolali, tumpang bisa disandingkan dengan nasi maupun bubur. Saya sih paling suka makan pakai nasi hangat, citarasa tempe semangitnya itu lebih keluar. Seolah-olah tempe semangit nge-blend sempurna bersama bumbu dapur. Biar lebih enak, saya tambah gerusan cabai. Rasanya makin menggigit! Mulai lebay deh.

Sejak kecil, saya sudah makan sambal tumpang. Kalau nggak salah, pertama kali makan menu ini di Boyolali (rumah nenek saya). Di rumah, Ibu saya juga sering membuatnya. Saya beranggapan sambel tumpang berasal dari Boyolali. Tetapi anggapan itu salah.

Menurut Sedap Saji dan Wikipedia, menu berasal dari Kediri, Jawa Timur. Di sana, biasanya disebut Pecel Tumpang atau Tumpang saja. Merujuk ke pecel, menu terdiri dari sayuran matang (seperti sayuran pecel) dicampur tumpang dan disajikan dengan peyek. Hampir sama seperti tumpang di Boyolali.

Ketika di Jakarta dan sekitarnya, saya sangat susah menjumpai sambal tumpang di warung atau rumah makan. Kok nggak masak? Nggak bisa, sis. Nggak usah dibahas panjang lebar soal itu. Ada sih teman ngasih tahu warung mana saja yang jual sambal tumpang, tapi kok lokasinya nggak ramah jangkauan (dari rumah dan kantor). Jadi ya cuma ngomong “pengen sambal tumpang”, tapi kenyataannya nggak nyari dan nggak beli.

Tetapi, saya baru saja menyantap sambal tumpang cukup enak di Bekasi. Ya, di Bekasi, tepatnya di Bekasi Utara. Citarasa tumpangnya aduhai, agak mirip tumpang Boyolali, apalagi makannya pakai karak. Kebetulan rumah makan tersebut surga makanan Jawa Tengah-an di Bekasi loh. Saya nggak akan cerita di sini. Di artikel berikutnya, saya akan beberkan sambal tumpang di Bekasi dan Boyolali.


Comments

  1. Nanski Joewono
    November 9, 2016 - 07:34

    Terima kasih infonya, pak Hans. Tulisan bagian kedua ada rumah makan yang menjual menu Jawa (termasuk sambal tumpang) di Bekasi. Monggo diwaos, pak. Matur nuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>