[Jajan] Sambal Tumpang: Tempe Semangit dan Kenangan Kota yang Hilang (2)

Bagian kedua ini, saya akan membahas tentang tempat makan yang menjual Sambal Tumpang. Kali ini, saya mengulas dua tempat makan sekaligus. Toh dua-duanya ada sambal tumpang. Satu rumah makan di Bekasi, Jawa Barat, dan satunya di Boyolali, Jawa Tengah.

Buat yang nggak tahu soal Boyolali, saya kasih tahu sedikit (sekali) tentang kota penghasil susu sapi tersebut. Boyolali merupakan kota kecil yang berjarak 82,5 kilometer dari Kota Semarang dan 30,6 kilometer dari Kota Surakarta (Solo). FYI, jarak berdasarkan Google Maps. Meskipun jaraknya nggak terlalu jauh dari Solo, tetapi banyak teman-teman saya (kebanyakan mereka lahir dan besar di ibukota) nggak tahu tentang Boyolali. Mereka pasti tanya, “itu di mana sih?”, “Boyolali itu Jawa Timur ya?”, “Boyo apaan?”.

Padahal Boyolali ini terkenal dengan sapi dan produk turunannya. Mulai dari susu, soto, sampai keju dan yogurt. FYI, di sini ada produksi keju kualitas ekspor loh, semoga saat ini masih eksis meski saya belum pernah lihat pabriknya :). Berdasarkan Wikipedia, sejarah kota juga nggak lepas dari pengaruh Kerajaan Mataram dan peninggalan Hindu abad kesembilan. Tetapi kenapa kota kecil ini seperti “kota mati” atau kota hilang? Jika dibandingkan Salatiga dan Magelang, Boyolali nggak ada apa-apanya deh. Saya sih menduga (ceileh, sok-sokan analisis), kota ini sengaja dihilangkan karena sejarah “kelam” 1965-1966. Waktu itu, Boyolali menjadi salah satu kota basis Partai Komunis Indonesia (PKI, di Jawa Tengah), bahkan bupatinya pun dari partai tersebut. Anda pasti tahu gimana propaganda pemerintah kala itu terhadap PKI, kan? “Pembersihan” anggota dan orang yang diduga PKI ada di mana-mana. Mungkin Boyolali hanya dianggap kota kenangan yang berangsur menghilang, jika potensi kota tidak dimaksimalkan. Caseclosed. Lanjut membahas nasi tumpang saja, yuk.

Warung Solo-Soto Kwali dan Bubur & Nasi Tumpang Mak Sagi

Tempat
1. Warung Solo: Warung yang menempati dua ruko ini cukup bersih, meski lokasinya mepet jalan perumahan. Warung Solo Selain tumpang, mereka juga menjual gudeg, pecel, garang asem, bothok, dan lainnya. Memasuki warung ini bikin saya merasa di Jawa, soalnya beberapa menu diletakkan di kendil (ala kendil gudeg Wijilan gitu loh) dan kursi + meja kayu.

Saya ke sini karena diajak teman, menurutnya dulu warung ini kecil (jangan tanya ukuran bangunan atau luas tanah deh), sekarang pemilik warung berhasil memperlebar warung, malah ada yang dikontrakkan ke orang lain. Warung ini terletak perumahan Harapan Baru, Bekasi, Jawa Barat. Dari perumahan Summarecon Bekasi, mungkin cuma sekitar satu kilometer atau kurang dari itu.

2. Mak Sagi: Untuk menemukan warung ini, Anda harus harus masuk gang. Memang jauh dari jalan raya, tetapi menu yang dijajakan kayu rasa. Di sini, kita bisa makan di dalam maupun luar warung. Saya lebih suka di luar, karena di dalam sempit dan kurang cahaya. Kalau di luar, abaikan debu-debu berterbangan yah, sis. Alamat warung di daerah Sumur Umum, Kebonso, Pulisen, Boyolali, Jawa Tengah. Kalau bingung soal arah menuju warung, tanya saja ke orang Boyolali.

Menu
1. Warung Solo: Makanan Jawa yang terkenal bisa ditemui di sini. Ada gudeg, pecel, urap (gudangan), sambal tumpang, garang asem, bothok, bacem, dan tentunya soto kwali.

2. Mak Sagi: Di sini, spesialis sambal dan bubur tumpang plus gorengan, pepes, dan kalau tak salah ada opor atau terik. Tapi saya cuma beli nasi sambal tumpang dan kerupuk.

Rasa
1. Warung Solo: Setelah struggled mencari sambal tumpang di ibukota, akhirnya saya menemukan menu ini di belantara Bekasi! Ya, Bekasi. Katanya sih di beberapa warung di Jakarta ada, tapi saya nggak belum pernah menemukan. Untuk ukuran makanan rantau, sambal tumpang di warung ini enak. Aroma tempe semangitnya itu menggigit, bumbu dapur bercampur sempurna di mulut, ditambah lagi rasanya agak pedas. Saya makan nasi tumpang (lengkap dengan sayuran) dan kerupuk karak. Jangan pikirin karak-nya pakai bleng (formalin) atau tidak, yang penting enak lah.

2. Mak Sagi: Juara! Top. Ini nggak lebay loh ya. Kalau saya bilang sih, sambal tumpang mak Sagi lebih sempurna dari warung Solo. Sempurna dari rasa maupun porsi. Lebih nendang. Sampai rasa daun salamnya saja terasa di mulut, apalagi tempe semangitnya, aromanya ke mana-mana dan rasanya menguasai mulut, sampai sekarang (???). Makan satu piring nggak cukup, dua porsi kebanyakan. Gimana dong? Di, sini saya makan sepiring nasi tumpang plus sayuran dan tahu. Pokoknya ini protein nabati rangkap dua.

Oiya, tumpang mak Sagi sudah menjadi favorit saya dan keluarga kalau berkunjung ke Boyolali. Dulu sempat mencicipi tumpang warung lain, tapi beberapa tahun terakhir tante saya merekomendasikan warung ini. Katanya, nasi tumpangnya lebih nikmat. Dan, kami pun telah membuktikannya.

Harga
Nggak tahu. Soalnya makan ramai-ramai, jadi bayar ramai-ramai juga. Pokoknya murah deh.

Kembali lagi
T.E.N.T.U.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>