[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (1)

nanananski

Rumah bergaya Indis banyak dijumpai di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sudah sejak lama, saya ingin sekali ke Lasem. Keinginan ini sudah ada pasca melihat Ca Bau Kan, film karya Nia Dinata. Salah satu lokasi syuting filmnya di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Nah, mumpung ada cuti akhir tahun, saya dan suami merealisasikan untuk Jalan-jalan ke Lasem. Mungkin destinasi Lasem terdengar aneh, tetapi banyak orang yang ke sini loh. Nggak percaya? Cek saja #lasemheritage dan #savelasem di Twitter atau Instagram.

Oks, perjalanan kami saya ke Lasem diawali dengan menghubungi tour guide. Ia adalah mas Pop (Baskoro), putera daerah asal Rembang, yang punya segudang cerita tentang Rembang dan Lasem. Rugi kalo nggak ikut open trip mas Pop.

Saya berangkat dari rumah ke terminal Rawamangun dengan tekad kuat dan optimisme pada malam Natal (24/12/2015). Sesampainya di sana, nasib saya terkatung-katung. Jadwal berangkat pukul 16.00, motor menjadi 20.00 WIB. Setelah itu, bus Pahala Kencana yang saya tumpangi (Jakarta-Malang) menjemput penumpang di Bekasi dan berhenti lama sekali. Usut punya Usut, sepanjang tol Cipali/Cikampek macet total. Jadi, kru bus lebih baik berhenti sejenak dari kemacetan the longest weekend daripada terjebak nostalgia di jalan raya. Eww.

Singkatnya, perjalanan tersebut menempuh 22 jam. Sudah pasti badan pegal linu, lapar, dahaga, panas, tetapi dibawa bahagia saja. Toh, ada suami yang selalu menemani. Haha.

DAY 1
Saya turun di depan Masjid Raya Lasem, Jalan Raya Pos, yang berlokasi di jalan utama Pantai Utara menuju Surabaya. Jalan ini peninggalan pemerintahan Belanda kepemimpian Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Dengan kata lain, jalan tersebut juga dikenal sebagai Jalan Daendels. Turun dari bus, mata suami sigap terhadap warung kaki lima yang menjual Nasi Gandul khas Pati, Jateng. Mampirlah kami ke tempat tersebut.

Guest House
Setelah makan, saya menuju guest house (GH) yang dikelola mas Pop. Berlokasi di Jl. Karangturi V/2, GH merupakan salah satu bangunan bergaya Indis yang dibangun sekitar 1800-an. Daerah Karangturi adalah Chinatown atau Pecinan di Lasem, terkenal dengan bangunan Indis yang dihuni keluarga Tionghoa. Suasana pecinan di sini cukup ramai, apalagi mulai pukul 05.00 WIB. Tetapi menjelang pukul 21.00 WIB, banyak toko dan rumah yang tutup, jalanan sepi. Seperti kota mati, kecuali Jalan Raya Pos yang tak pernah sunyi.

Sebenarnya, lokasi GH ini cukup luas, karena terdiri dari dua bangunan utama. Sisi kiri, ada GH dengan dua kamar. Sisi kanan, bangunan rumah induk, yang bagian depan joglo dengan empat tiang pancang. Sayang, ubin abu-abunya sudah ada yang rusak, bagian belakangnya pun tak dipakai. Tak heran, banyak debu dan bangunan terlihat lusuh sekali.

DAY 2
The journey has begun. Sebelum Jalan-jalan, kami sarapan di warung depan gang. Mangkuk mini soto Semarang plus tempe goreng cukup buat kami. Hari ini, kami bergabung dengan rombongan lain yang menggunakan jasa mas Pop.

Pasar Karangturi
Destinasi pertama kami adalah pasar Karangturi, yang letaknya tak jauh dari GH. Meski berada di gang sempit, namun suasana ramai. Para pedagang menjajakan kebutuhan pokok harian, seperti beras, sayur, ikan, daging, buah, dan bumbu palawija. Kami diajak mas Pop mengunjungi tiga rumah penduduk setempat. Mereka berprofesi sebagai pedagang. Menjejakkan kaki ke rumah-rumah tersebut seperti “membongkar” warisan Lasem.

nanananski

Salah satu rumah di pasar Karangturi. Rumah ini bergaya Jawa-Tionghoa.

Rumah tante
Rumah tua percampuran Jawa-Tionghoa yang tercatat 1894 dimiliki oleh keluarga kecil Tante (maaf, saya lupa namanya). Katanya, rumah tersebut dari orang tuanya. Di depan pintu masuk tertulis nama sang pemilik Oei Eng (ibu) dan Kwee Toan Nio (anak).

nanananski

Meja persembahan sudah tidak digunakan lagi. Foto di atas, konon kata pemilik rumah, pembangunan tempat ibadah oleh Cheng Ho, Sam Poo Kong, di Gedong Batu, Semarang.

Sekarang rumah yang memiliki halaman sekitar 1,5 x 3 meter dihuni Tante dan anak laki-lakinya. Ia menempati bagian depan rumah. Sisi kiri untuk tidur dan kanan untuk kegiatan lainnya. Sementara tamu, dijamu di tengah-tengahnya. Padahal bagian rumah masih tersisa banyak loh, tetapi tante ogah menempatinya.

nanananski

Pabrik tempe sekaligus tempat tinggal sang pengusaha.

Pabrik tempe
Rumah kedua yang kami kunjungi: pabrik tempe. Rumah ini bergaya sama seperti sebelumnya. Digunakan sebagai pabrik tempe rumahan dan sudah memasuki generasi kedua. Jadi, bagian pabrik berada di belakang rumah. Mulai dari mencuci kedelai, mengolah dengan ragi, pembungkusan daun jati/plastik, dan lainnya.

Rumah om Yohanes
Karena terlalu lama antara perjalanan dan menulis ini, jadi saya lupa rumah selanjutnya yang kami datangi. Kalau tidak salah, sang pemilik rumah bersama Yohanes. Kalau Anda tahu nama beliau sebenarnya, kasih tahu saya ya. :D

Sekilas mengenai rumah gaya Indis ( Indische Woonhuizen).

Rumah ditengarai berdiri pada abad 18-19 Masehi. Tetapi, pagar pintu masuk dipengaruhi oleh rumah Tiongkok. Halaman depan rumahnya sangat luas. Sisi kanan rumah ada beberapa deret kamar kecil, bagian depan toko – tempat om Yohanes jualan setiap pagi-siang hari. Lantai rumah terakota, sehingga membuat suasana hangat. Berjalan melalui samping rumah, kami sudah berada di teras belakang yang tak kalah luas. Ada beberapa bangunan yang tak terpakai. Rumah yang ditempati cuma rumah inti, saya tidak masuk. Jadi tak bisa banyak komentar.

Om Yo bercerita, zaman sekarang jauh lebih enak. Tidak seperti dulu, susah. Menurutnya, Lasem relatif aman termasuk ketika suhu politik memanas pada 1965-1966. Ia sempat bekerja ke luar kota dan memutuskan untuk tinggal di kota tercinta tinggal bersama istri dan ketiga anak. Lelaki berusia (sekitar) 74 tahun hanya menjalani kehidupan sehari-hari. Pagi, ia membuka toko. Setelah jam makan siang, ia menutup toko dan kadang mengisi waktu memancing atau kegiatan di gereja. Tak lama kemudian, ia rasan-rasan (mencurahkan hati) kalau anak muda Lasem tak peduli dengan kotanya sendiri. Mereka ogah bekerja di sini. Mereka seperti anak-anak masakini atau generasi millennial, yang punya cita-cita dan rela mewujudkan keinginan di manapun keinginan itu berada. Dua dari tiga anaknya kerja di luar Lasem. Anak pertama kerja dan tinggal di Amerika Serikat (bersama keluarganya), anak ketiga kerja di Surabaya. Si bungsu, menurut om Yo, lebih suka tinggal di Kota besar. Karena pekerjaan dan fasilitas serba ada di sana.

Note: Perjalanan selanjutnya ke klenteng Cu An Kiong, rumah Ca Bau Kan, Lawang Ombo, makan lontong tuyuhan, dan ke rumah opa Lo Geng Gwan. Tetapi akan saya tulis secara terpisah.

DAY 3
Hari ketiga atau terakhir, kami diajak mas Pop menyambangi situs purbakala Leran. Lokasinya berada di Desa Leran, Kecamatan Sluke, sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Lasem. Persisnya situs terletak di pinggir pantai Caruban, yang berbatasan dengan PLTU 1 Jawa Tengah. Menurut mas Pop, sekitar 2007 kerap ditemukan potongan tulang manusia purba. Diduga manusia tersebut hidup pada zaman abad tujuh Masehi. 2012, Balai Arkeologi Yogyakarta baru mengekskavasi situs tersebut. Lumayan juga ya?

Sayang sekali, kondisi situs ini jauh dari kata layak. Seperti kurang perhatian dari pemerintah daerah Rembang, karena lingkungan tidak terawat. Masih banyak sampah dan penataan batu-batu besar yang tak teratur. Sedih melihat situs bersejarah, tetapi digunungi sampah. Saya nggak tahu apa yang terjadi dengan pemda Rembang, tim arkeolog, dan penggiat warisan budaya Lasem. Yang pasti, kalau ingin Lasem menjadi World Heritage Unesco, semua pihak harus berbenah diri. Disiplin, disiplin, disiplin, menghargai dan merawat warisan nenek moyang, serta menjaga kerukunan antar umat. Disiplin ini luas loh, mulai dari disiplin membuang sampah di tempat sampah, waktu, berlalu lintas, dan lainnya.

Setelah dari sini, kami melanjutkan ke sebuah situs makam kuno, dekat pasujudan Sunan Bonang. Lalu makan di warung Bu Tri – sudah ditulis dalam artikel sebelumnya – yang rasanya sangat nJawani.

Lasem, kota kecil penuh kenangan. Lasem, kota peradaban Jawa di tepian Pantura yang menyimpan segudang pusaka atau warisan budaya.


Comments

  1. Nanski Joewono
    October 10, 2016 - 06:32

    Bisa hubungi di fan page Facebook: Lasem Heritage Trail, Twitter: @HeritageLasem, dan email: rembangheritagesociety@gmail.com. Semoga membantu, bu. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>