[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (2)

nanski joewono

Pintu masuk Lawang Ombo dari sisi samping. Konon, bangunan ini berdiri sekitar 1830-an dan di dalamnya terdapat nisan tertulis 1855.

Setelah menulis “Membongkar” Rumah Indis di Lasem 1, saya bakal melanjutkan bagian kedua. Pada bagian ini akan membahas (jangan berpikir pembahasan serius ya…) rumah indis – tentunya percampuran rumah gaya Fujian, Tiongkok – berdasarkan keterangan mbak Agni Malagina di National Geographic.

Lawang Ombo
Beberapa referensi yang saya baca, Lasem tak hanya dikenal sebagai kota bersejarah atau warisan dunia. Menurut para peneliti – terutama peniliti budaya dan sejarah – Lasem juga terkenal sebagai kota candu (opium) – bahasa keren sekarang narkoba. Pasalnya, Lasem merupakan kota perdagangan candu terbesar di Hindia Belanda era abad 18-19 M, diperkirakan rumah dibangun 1860-an. Pemilik bernama Liem Kok Sing, saudagar kaya raya. Salah satu bisnisnya adalah penyelundupan candu dan rumah Liem ini besar dan lebar.

nanski joewono

Atas: Bangunan depan Lawang Ombo, yang baru saja didekorasi untuk acara ulang tahun. Bawah: Pintu masuk bangunan yang dulu sering digunakan. Jika pintu dibuka langsung menuju teras depan.

Rumah lawang ombo (Jawa, pintu lebar) berada di Jalan Dasun, Lasem. Rumah ini sangat luas – kira-kira 5,500 meter, dikelilingi pagar bumi setinggi 1,5 meter, dan dilengkapi dua pintu masuk. Kata mbak Agni, rumah dengan pagar tinggi mengelilingi rumah dan pintu utama di depan merupakan ciri khas rumah di Fujian. Kalau di kota urban, tanah seluas itu dibikin cluster loh. Di dalam rumah terdapat rumah depan (bangunan utama), rumah belakang (sekarang menjadi sarang walet), dan pemakaman sang pemilik (di samping rumah). Memasuki rumah depan, kita akan disambut altar pemujaan dan foto Liem dan istrinya. Lantainya menggunakan terakota – ubin mahal kala itu, ada pula ubin klasik khas rumah indis, dan pintu dari kayu menjulang tinggi. Bisa dibayangkan besar dan mewah lawang ombo itu, kan?

Konon katanya, waktu Liem berbisnis candu, ia membeli candu secara ilegal. Menyelundupkan candu melalui terowongan yang bermuara di sungai Bagan. Jadi, rumah memiliki terowongan di bagian depan sedalam 1,5 meter dan berdiameter tiga meter. Rumah belakang dipakai untuk gudang candu. By the way, bisnis narkoba sudah berlangsung ratusan abad lalu. Kalau ada pihak ingin memberantas jual beli narkoba sepertinya sulit, kecuali meminimalisirnya.

Bisnis candu eksis pada era Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Entah apa alasan pastinya, VOC membunuh semua keluarga Liem dan orang-orang yang berada di situ. Alasannya bisa jadi bisnis candu dilarang pemerintah Hindia (konon mereka juga menikmati tuh…), mereka iri kesuksesan Liem dan ingin menguasai bisnis candu, atau masalah rasisme (mungkin nggak sih?). Sekarang rumah dimiliki Tjoo Boen Hong (Soebagio), keturunan keluarga Liem.

Tidaklah heran, ketika memasuki lawang ombo aura “aneh” menyeruak. Aura bangunannya gimana gitu. Mistik? Entahlah. Untuk kondisi, bagian depan cukup terawat, tetapi tak sedikit berdebu (lantai, pintu, kusen, foto, dan barang pajangan) terutama bagian belakang, bahkan ada beberapa sudut bangunan keropos. Satu lagi, nyamuknya banyak banget! Kalau jalan-jalan ke Lasem, jangan lupa bawa bugs repellent atau mosquito spray/lotion.

Rumah Tegel
Perjalanan kami lanujutkan ke Rumah Tegel. Dinamakan demikian karena dulu terdapat pabrik tegel jenama (merek, brand) LZ milik kapitan Lie Thiam Kwie. Rumah indis ini sangat luas, mungkin sama seperti lawang ombo atau mungkin lebih luas dari lawang ombo. Sayang, tante pemilik rumah tak berada di tempat, jadi kami tak bisa masuk rumah inti (depan).

nanski joewono

Pemilik rumah ini pasti orang religius. Pasalnya, tembok tiang bawah di teras belakang terdapat ornamen. Lihat detail ornamennya.

Rumah tegel masih bergaya indis. Hanya saja, pagar bumi rumah – untuk keluar masuk – sudah dimodifikasi. Halaman depan rumah terdapat pilar menjulang – mirip rumah Eropa. Bagian belakang juga ada teras yang dilengkapi beberapa set meja-kursi vintage, kursi kasir plus nota-nota, barang-barang antik, dan contoh tegel motif vintage dengan cap khas LZ. Pilar belakang bagian bawah dihias tegel “suci”. Maksudnya? Tegel bergambar tokoh-tokoh suci dan firman Tuhan dari Injil. Belakang rumah inti ada taman yang sangat-sangat luas plus pohon teduh. Eits, rumah samping depan juga cukup luas dan belakangnya adalah pabrik tegel, yang saat ini beroperasi jika ada pesanan. Ironisnya, sekarang jarang sekali ada pesanan tegel Lasem. Di sinilah, awal mula rumah ini disebut rumah tegel. Karena ada pabrik tegel. Jika Anda ingin tegel vintage, boleh memesan di pabrik ini, jika mereka bersedia menerima order.

nanski joewono

Semua pembuatan ubin dilakukan di tempat tersebut. Pabrik memiliki dua mesin ubin yang didatangkan langsung dari Jerman.

Sebenarnya, saya ingin sekali memotret sudut-sudut rumah tegel. Karena saya suka atmosfer retro, tetapi saya sudah nggak fokus. Nyamuk di sini tak kalah ganas dari lawang ombo. Kami nggak sempat membeli lotion penangkal nyamuk! Argh!

Rumah opa Lo Geng Gwan
Menutup hari kedua dengan menyambangi rumah opa Lo Geng Gwan dan adiknya, oma Lim Luan Niang. Di kawasan Karangturi ini, lelaki berusia 87 tahun hidup bersama adik dan penjaga rumah, mbak Minuk. Kata mas Pop, mbak Minuk sudah bekerja di situ sekitar 30 tahun, ia jago masak termasuk membuat kecap – She always make homemade soy sauce regularly.

Karena bermasalah dengan kulit (gatal-gatal) gara-gara serbuan nyamuk, jadi saya nggak menikmati berkunjung di sini. Padahal cerita opa sangat menarik sekali, seperti sejarah hidup. Opa menceritakan semasa mudanya dulu. Ia merupakan pemilik sekaligus sopir truk. Rute perjalanannya Semarang-Surabaya selama 20 tahun – kira-kira segitu. Ia menghabiskan waktunya sepanjang jalur Pantai Utara (Pantura). Ia mengangkut atau mengantarkan barang ke tempat tujuan. Pulangnya, ia berusaha mencari barang yang bisa diangkut di kota asal.

Satu hal yang tak pernah ia lupakan ketika menjalankan tugas: membeli majalah, salah satunya Liberty. Opa masih menyimpan majalah itu. Saya membuka halaman per halaman, menemukan seorang sohor yang sampai sekarang masih eksis. Begitu pula dengan iklan, terdapat jenama terkenal, ada pula jenama lokal. Ada satu lagi yang tak pernah dilupakan opa, teman setia bernama Roto. Anjing lokal ini selalu nempel opa. Santai pagi bareng Roto, nongkrong sore di teras ditemani Roto, nongkrong malam pun ada Roto di sampingnya.

Oiya, rumah opa cukup luas, baik teras depan, rumah inti, maupun teras belakang. Di teras depan, terdapat set meja-kursi kayu vintage dan barang-barang klasik. Berdebu dan agak tidak teratur. Kalau opa mengizinkan, saya bakal bersih-bersih rumah sampai rapi jali (maklum otak mak-mak). Hehehe. Tetapi, opa tergolong orang santai, nrimo, opo anane. Sehat selalu, opa.

Saya kembali ke GH.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>