[Jalan-jalan] Menikmati Lasem dari Mulut dan Perut

Ke manapun destinasi saya, makan adalah kuncinya. Apalagi menunya asli daerah setempat, jangan sampai melewatkan kesempatan emas itu! Dan, kuliner daerah yang belum lama ini saya cicipi adalah makanan khas Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Jarak Lasem ke Jakarta tidak pendek. Berdasarkan Google Maps, perlu waktu 10 jam 45 menit untuk menempuh jarak 595 kilometer. Meskipun hal itu mustahil di tengah kemacetan biadab jalur Pantai Utara (Pantura). Belum lagi, jalanan dikuasai oleh truk dan bus AKAP. What a crazy damn thing.

Perjalanan saya menuju Lasem menggunakan jasa transportasi publik, bus Pahala Kencana. Butuh waktu 22 jam untuk sampai tujuan. Perjalanan kali ini sungguh melelahkan.

Jauh-jauh hari, saya sudah merencanakan perjalanan ke Lasem. Saya menghubungi mas Pop sebagai “penguasa” Rembang & Lasem. Ia bertindak sebagai tour guide saya dan suami. Menjelang Lasem, kami sudah janjian akan bertemu di guest house (GH), di Jl. Karangturi V/2.

Kami turun di seberang Masjid Raya Lasem, Jalan Raya Pos, letaknya di jalur utama Pantura. Di tempat kami turun, ada sebuah warung kaki lima bertuliskan Nasi Gandul & Soto Daging Sapi asli Pati. Karena suami lapar dan belum pernah makan nasi gandul, akhirnya kami memanjakan perut dan mulut, mampir ke warung tersebut.

Nasi Gandul
Di sini, kami menikmati nasi gandul dan gorengan jeroan. Nasi gandul adalah nasi dengan kuah santan kuning yang tak begitu kental dengan beberapa potongan daging sapi. Rasa kuah gurih, berasal dari bumbu, namun cenderung manis karena efek kecap manis. Kalau nasi kurang pedas, bisa ditambahkan sambal hijau (nggak terlalu pedas). Mereka juga menyediakan nasi soto daging.

Biar tambah lezat, makan nasi dengan gorengan jeroan. Gorengan terdiri dari babat, paru, hati, otak, dan ada pula tempe goreng. Semua gorengan diiris tebal. Jadi, ketika memakannya pun terasa mantab dan teksturnya lembut. Rasanya mulut ogah berhenti mengunyah. Misalnya saja favorit saya: paru goreng. Daging tebal, kenyal, agak asin (nglawuhi, kata orang Jawa). Pokoknya cocok buat lauk.

Makan paru goreng seperti nostalgia bersama Ayah saya. Dia suka sekali “mencekoki” saya dengan berbagai makanan, termasuk jeroan sapi. Yang paling saya suka adalah paru dan limpa goreng. Rasanya itu nagih! Ingat, nggak boleh sering makan gorengan ini.

Tahu Campur

Makan malam, kaki kami melangkah ke warung Tahu Campur legendaris pinggir jalan. Apa beda tahu campur Semarang, Magelang, Jogja, dan Lasem? Pada dasarnya sih sama saja, bumbunya juga gitu-gitu saja. Hanya racikan pedagang dan tambahan sayur yang berbeda.

Menurut sang penjual, generasi kedua, warung tahu berdiri sejak 1950an. Sempat berpindah tempat, tetapi masih di sekitar Jl. Karangturi. Mereka membuka warung mulai pukul 18.00-habis.

Menu ini terdiri dari potongan tahu goreng, irisan lontong, sayur lodeh, dan kecambah, diguyur sambal kacang nan legit dan pedas (untuk ukuran saya, sambal nggak pedas sih). Lodeh? Yes, tahu campur di sini memang dicampur sayur lodeh, jadi makanannya semakin kaya rasa. Biar lebih komplit, makan dengan tempe goreng yang super tipis dan garing. Kriuk.

Kopi Lelet
Kali ini bukan makanan, tetapi minuman. Kopi, salah satu kuliner Indonesia yang terkenal seantero dunia. Di Lasem sangat terkenal dengan Kopi Lelet.

Kopi lelet merupakan black coffee yang banyak dijumpai di Lasem. Teksturnya gelap, seperti tercampur arang, tetapi (kata penggemar kopi) itu hanya masalah teknik roasting yang sedikit gosong. Sisa kopi bisa di-lelet-kan (lelet/tempel/lengket) di batang rokok, menggunakan tusuk gigi atau kertas gulung runcing. Ibarat batik, kopi itu malam yang dapat ditorehkan di batang rokok.

Lontong Tuyuhan
Kuliner ketiga yang kami nikmati adalah Lontong Tuyuhan. Kami membelinya di desa Tuyuhan, kecamatan Pancur. 10-15 menit dari kecamatan Lasem. Kami dibawa ke sentra warung lontong. Di sama, ada deretan warung, customer tinggal memilihnya.

Saya penasaran bagaimana wujud lontong tersebut. Setelah tahu, ternyata seperti lontong opor ayam. Jadi, irisan lontong disiram kuah opor plus potongan ayam (dada, paha, kepala, sampai jeroan). Rasa kuahnya gurih, pedas merica, tetapi agak manis. Kurang pedas? Sayang, di sini tidak menyediakan sambal. Agak kecewa juga nggak ada makanan pedas. Tetapi saya sangat menikmati makanannya, tambah kerupuk biar semakin renyah. Pulang, perut pun kenyang.

Warung Bu Tri

Warung Bu Tri menjual berbagai makanan khas Jawa Tengah. Ada mangut, asam pedas, asem-asem daging, hingga sup ayam.

Warung Bu Tri 

Hari terakhir di Lasem, kami menikmati makanan Warung Bu Tri. Mereka buka 24 jam dan terletak di Jalan Raya Pos. Karena waktu itu siang terik, matahari menyengat, jadi kami ingin makanan menantang. Ya, ini lebay.

Saya memesan nasi plus sayur mangut. Apa itu mangut? Ikan (pari) diasap, lalu dimasak dengan bumbu-bumbu dapur dan santan. Rasanya, gurih cenderung manis, ada semburat pedas. Sebenarnya, kalau rasanya lebih pedas pasti lebih mantab. Makan mangut seperti terlempar ke zaman dulu, ketika masih hidup di kampung. Betapa mudahnya menemukan mangut pedas, lalu saya makan dengan nasi hangat. Tak terasa, mulut kepedasan, panas, dan dower.

Duh, makanan yang jarang ditemui di Jabodetabek. Suami pesan nasi dan sayur asam pedas (ikan bumbu kuning). Karena ia merasa kurang kenyang, jadilah nambah seporsi mangut. Mas Pop pesan nasi dan sup sayur ditambah gorengan. Masing-masing dari kami pun mencomot gorengan atau kerupuk. Terakhir kami menyesap es teh! Dan semua makanan itu menghabiskan Rp 47 ribu saja. What a blessing skimpy.

Kalau Anda jalan-jalan ke Lasem, jangan lupa mencicipi lima kuliner di atas. Kalau dilihat, memang makanan di atas nggak sehat, tetapi sesekali boleh lah menyenangkan mulut dan perut Anda. Masih banyak kuliner Lasem yang belum saya coba, tetapi durasi cuti saya mepet. Jadi sekalian ke Jawa Tengah, saya mampir kota lain.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>