Kehendak Orang Tua Vs. Cita-cita Anak

nanski joewono

David Beckham dan istrinya, Victoria, mengajarkan keempat anak mereka untuk bekerja keras, disiplin, sportif dalam berbagai bidang. David membebaskan cita-cita anak-anak mereka, yang pasti mereka tidak mudah mendapatkan uang jajan. Mereka harus bekerja part time di gerai milik sang ibu atau internship di kedai kopi. Foto: Indiana Express.

Beberapa hari lalu, kantor tempat saya kerja (nama kantor dirahasiakan ya…) kedatangan Rene Suhardono. Ia adalah konsultan SDM (sumber daya manusia), penulis buku, plus netizen kondang di jagat Twitter. Ia banyak ngomong soal karier, renjana (passion), kemahiran, hingga penguasaan seseorang (karyawan) terhadap sesuatu.

Tetapi, dalam pembicaraan di atas, saya tertarik soal renjana yang dipaksakan. Biasanya hal ini terjadi antara kehendak orang tua versus cita-cita anak. Salah satu orang yang menjadi “korban” kehendak orang tua adalah saya.

“Hati-hati terhadap orang tua. Saat Anda sudah menginstruksikan ke anak, bahwa mereka akan melakukannya sesuatu, sebagai anak kecil itu sebuah instruksi,” kata pemilik akun @ReneCC.

Snap!

Orang tua Vs. Anak
Lalu ia bercerita soal rekannya, seorang pelari. Sebut saja si Tangguh Jr. *Kenapa Tangguh sih? Karena pelari harus tangguh fisik dan mental. Bapaknya, Tangguh Sr. adalah mantan atlet kebanggaan Indonesia.

Suatu saat, Tangguh Sr. bilang ke sang anak, “Kamu harus melanjutkan karier papa, membuat bangga keluarga dan negara.” Tangguh Jr. pun melaksanakan titah tersebut. Singkat cerita, sejak kecil ia berjuang keras demi menjadi pelari. Berbagai lomba dalam dan luar negeri diikuti, hingga akhirnya ia berhasil menyabet medali perak di SEA Games (entah SEA Games ke berapa, Rene tak menyebutkan. Kalau nyebut, ntar orang-orang tahu rahasia keluarga Tangguh dong). Setelah itu, Tangguh Jr. meminta izin kepada ayahnya. Kariernya sebagai pelari sudah berakhir, ia sudah membanggakan orang tua dan negara, bahkan meneruskan kesuksesan ayahnya di arena olahraga (kalau kalimat pemerintah, Tangguh Jr. meneruskan tongkat estafet ayahnya). Dan, ia pun mengejar cita-cita yang selama ini terpendam rapat. Mungkin serapat tekstur cireng goreng.

Itulah jika cita-cita dan passion anak dipaksakan orang tua. Untung seribu untung, Tangguh Jr. nggak tersandung narkoba atau tawuran gara-gara nggak terpenuhi cita-citanya, loh.

Saat anak tidak ingin melakukannya, tetapi orang tua memaksa sejak kecil dan difasilitasi (penunjang paksaan orang tua) pula, mau tak mau anak akan giat, kerja keras, banting tulang. Demi apa? Ya demi cita-cita orang tuanya lah.

Baru-baru ini, saya dengar cerita dari seorang bapak Patuh. Pak Patuh punya anak, yang sejak lulus SD “dikirim” ke pesantren di daerah Jawa Timur. Padahal anaknya, sejak SD, suka sekali dengan sepak bola. Ia kerap mengikuti kejuaraan SSB (SSB-nya nggak main-main, SSB Ragunan loh, sis) dan Danone Nations Cup (diadakan oleh Danone Aqua). Ketika sekolah plus hidup di pesantren, Patuh Jr. masih berhubungan dengan teman-teman SSB. Bahkan kalau pulang ke rumah, ia masih sering main bareng mereka. Masalahnya, sekarang Patuh Jr. meminta pulang! Ia ingin sekolah di SMA dan melanjutkan latihan sepak bola. Ia ingin sekolah bola di luar negeri dan berkarier sebagai pesepakbola profesional.

“Anak saya dari dulu ingin sekolah sepak bola di luar negeri. Tapi saya pikir-pikir kan mahal banget. Saya masukin pesantren biar belajar agama. Eh sekarang dia nuntut sekolah di SMA, pulang kerumah. Kok, saya rasa gimana gitu kalau dia di rumah,” cerita pak Patuh Sr.

Saya pun heran.

Passion bisa dipaksakan
Memang sesuatu yang dipaksa hasilnya kurang memuaskan atau tak berlangsung lama. Meski demikian, Tangguh bisa belajar tentang kerja keras, disiplin diri, sportivitas, anatomi tubuh, asupan gizi, networking di dunia olahraga, mengetahui seluk-beluk lari, dan lain-lain. Di sisi lain, ia tak mendapatkan kebahagiaan dan meaning of life sebagai manusia. Ia terkekang melakukan hal yang ia gemari. But life goes on.

Menurut Abraham Maslow, psikolog dan pelopor aliran psikologi humanistik, manusia akan selalu memenuhi semua kebutuhannya. Kebutuhan itu dibagi dalam hierarki dari yang paling dasar hingga tinggi, yaitu kebutuhan dasar/fisiologis (psysiological), rasa aman (safety), mencintai dan rasa memiliki (love/belonging), harga diri (self esteem), dan aktualisasi diri (self actualization. Inilah yang disebut Hierarki Kebutuhan Manusia (Hierarchy of Needs).

Gampangnya gini, kalau sudah bisa makan, minum, dan tinggal di rumah pantas, rasa aman sudah terpenuhi, sudah mencintai dan dicintai orang-orang (termasuk jomlo bahagia ya), dan memiliki gambaran diri positif, seseorang cenderung melakukan sesuatu. Biasanya sesuatu itu berhubungan dengan keinginan dan/atau kemampuan diri sendiri. Bentuknya bisa bekerja di kantor, kegiatan sosial, menciptakan usaha kecil, hingga mengasah skill tertentu. Itu yang dinamakan aktualisasi diri. Disebut juga kebutuhan atau pencapaian tertinggi seseorang. Ketika seseorang berhasil memenuhi aktualisasinya, ia akan bahagia dan memaknai hidup lebih dalam (lautan kali ahh). By the way, kalau cocok dengan teori Carl Rogers, Stephen Robbins, atau yang lain silakan saja.

Jadi, jika orang tua sudah memenuhi (setidaknya) tiga kebutuhan anak, ia punya citra diri positif dan selanjutnya bakal memenuhi aktualisasi dirinya sendiri. Misalnya, lebih memilih menjadi entrepreneur dibanding pelari, memilih jadi pesepakbola daripada santri, memilih jadi sarjana filsafat daripada arsitektur.

Terus gimana kalau pilihan anak dipaksakan orang tua, tetapi anak nggak suka, tetapi harus melakukannya. Nggak ada pilihan lain. Seperti yang saya alami ketika harus kuliah di fakultas psikologi, padahal saya berencana kuliah di fakultas seni. Kalau nggak kuliah di psikologi, orang tua nggak bakal biayain kuliah. Pernah ditawari pindah kuliah waktu semester tiga. Yaaa kaliii.

Dari situ saya (tumben) berpikir, seandainya punya anak, saya nggak ingin menghalangi cita-citanya. Selama itu positif dan tidak merugikan diri sendiri plus orang lain, saya akan dukung dia. Mungkin orang tua memang perlu memperkenalkan dan mengasah bakat anak, tetapi pilihan terakhir di tangannya. Toh, orang tua juga harus belajar ke anak.

Kerja dan passion
Kembali ke Rene, ia juga menjelaskan tipe “proletar ideal” (???). Yaitu ia memiliki Performance kerja > menghasilkan karyawan Believer > mereka tak mudah puas, bicara soal apa yang harus dikerjakan selanjutnya, dan target yang wajib terpenuhi.

Nah, passion berkaitan erat terhadap aktivitas. Karena passion merupakan aktivitas berdasarkan apa yang seseorang kerjakan. Misalnya editor, yang dikerjakan menulis, membaca, piknik, banyak bertemu orang, dan aktivitas berhubungan dengan hal itu.

Aktivitas > dilakukan dengan tekun dan gigih atau Persistent (misal gitaris harus melakukan 10-50 ribu jam latihan per tahun) > menghasilkan penguasaan (Mastery) di bidangnya atau The Journey of Passion.

Activity juga menghasilkan > Output > Input > Meaning.

“Untuk jadi mastery, keywords-nya desirable difficulties. Nah, meaning akan bertemu dengan mastery. Jadi passion itu koridornya, meaning itu karya. Karya bisa dirasakan dan dimaknai oleh orang lain,” lanjut bapak tiga anak.

Jika Anda kerja tidak mendapatkan apresiasi, relevansi, and growth, you have to move on! ~ Rene Suhardono


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>