Marketing Strategy of Media oleh Samuel Mulia

nanskijoewono

Banyak orang yang mengkritik Gwyneth Paltrow, kata mereka produk Goop sangat mahal. Tetapi ia tak peduli hal tersebut, Goop tetap berjalan dan sudah memiliki target market. Goop telah menentukan brand of positioning. Foto: Vanity Fair

Beberapa bulan lalu, kantor saya bekerja (nggak udah disebutin namanya :D) kedatangan penulis fashion, lifestyle, pemimpin redaksi, dan penikmat kuliner, Samuel Mulia. Bagi Anda pembaca Kompas cetak Minggu pasti tahu dong lelaki tersebut?

Kedatangan cowok langsing itu — sebenarnya — untuk mengajari kami — saya dan teman-teman sebagai penulis — soal ‘how to write fashion articles‘. Tetapi dalam kenyataannya, justru ia menyampaikan hal lain, yang tak kalah penting sebelum menulis. Lebih tepatnya tentang strategi pemasaran media atau Marketing Strategy of Media.

“Tiga hal yang saya selalu terapkan dalam pekerjaan adalah KPK,” om Samuel membuka pembicaraan.

Eits, ini bukan soal Komisi Pemberantasan Korupsi loh ya. Tetapi KPK di sini adalah Know you brand, Personify, Know your audience. Karena kantor saya itu media, jadi membahas soal meja redaksi dan marketing — di banyak perusahaan media, kedua meja itu sering nggak klop, berbenturan, dan memicu perpecahan perusahaan! Lebay sih, tetapi ya begitulah adanya.

Oks, kita bedah satu per satu soal KPK. Pertama, know you brand of positioning. Menurut om Sam, keuangan terjadi bukan karena orang sales atau marketing semata, tetapi justru redaksi. Penjual pertama adalah editor, karena mereka orang-orang yang menciptakan mimpi atau ide, lalu menerjemahkan mimpi dalam angka. Jadi orang redaksi ini bertugas membuat media menarik pembaca. “Itulah orang sales, sales person.”

Soal brand of position, sebuah perusahaan wajib, kudu, mesti, harus — ala Bossman di My Stupid Boss — memiliki ini. Secara gamblangnya, brand position diartikan perusahaan ingin target pasar berpikir atau menempatkan jenama sesuai keinginan mereka. Tentunya didukung pula dengan konten, kemasan atau tampilan produk, plus rencana dan strategi pasar. Contoh yang berhasil dalam brand of positioning adalah Gwyneth Paltrow dengan Goop-nya. Banyak kritikus fashion dan media yang bilang, produk-produk Goop sangat mahal. Tetapi, Gwyn nggak peduli, ia tetap berkibar menjalankan karier dan mengembangkan Goop — tentunya dengan produk eksklusif dan memiliki value.

Kedua, personify your brand. Hal ini harus disepakati bersama antara redaksi dan sales dan marketing. Kata lain adalah mereka harus kompak. Jadi dalam membuat konten harus diperhatikan tentang siapa yang harus diwawancarai, apa yang harus ditulis, dan iklan apa yang harus dicari. Kalau kompak, perusahaan pun gampang mencari laba. Pengen kan dapat cuan? Yuk, cus!

Misalnya, Kartu Halo dari Telkomsel menggunakan Joe Taslim sebagai bintang iklan dan ikon produknya. Cocok kan? Coba kalau ikonnya itu Dian Sastro. Ya, sudah jelas bakal dilabrak XL lah.

Ketiga, know your target audience. Sebelum membuat produk, perusahaan manapun pasti sudah menentukan target pasar. Anak-anak, remaja, atau dewasa? Berapa rentang usia mereka? Status ekonomi low, middle, high? Apa hobi mereka? Dan lain-lain, disesuaikan dengan kebutuhan ya, sis.

Misalnya, pembaca majalah Intisari itu laki-laki, perempuan, usia 25-55 tahun, kelas menengah (B-A/B), pendidikan minimal D3, dan memiliki kendaraan pribadi plus ada waktu buat hangout. Bandingkan jika pembaca majalah tertua KG itu 18-30 tahun, galau, kelas menengah (B), dan suka nonton Inbox. Bagaimana bentuk konten Intisari? Mungkin pak Jacob Oetama tanpa pikir panjang menutup Intisari kali, ya.

Kalau ketiga strategi sudah ditetapkan, saatnya eksekusi atau execution. Execution ini seperti bagaimana cara memberitakan atau angle berita, angle foto, siapa yang diberitakan, kegiatan apa yang akan diadakan buat klien dan pembaca.

Nah ini, salah satu kelemahan kita adalah eksekusi. Salah eksekusi tentu menghasilkan produk tidak baik. Begitu juga sebaliknya.

Publishing company ada dua macam, create market dan existing market. Kalau create market ada kendalanya, meyakinkan ke pemasang iklan dan agency, karena mereka suka ada buktinya, sangat konvensional. Keuntungannya kalau deal, they follow you. Existing market itu seperti situs yang ada sekarang. Perusahaan Anda yang mana?” om Sam mengakhiri chit-chat kepada kami.

Matur nuwun om Sam atas sharing-nya. Kapan-kapan main ke kantor eike lagi, ya.

NB: Kalau Anda merasa materi soal marketing strategy of media, bisa di-gooling atau membaca buku referensi tentang marketing. Karena waktu terbatas, om Sam cuma menyampaikan bahan-bahan yang singkat, padat, jelas, dan terarah. Ceilah bahasanya, sis….


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>