[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (2)

nanski joewono

Pintu masuk Lawang Ombo dari sisi samping. Konon, bangunan ini berdiri sekitar 1830-an dan di dalamnya terdapat nisan tertulis 1855.

Setelah menulis “Membongkar” Rumah Indis di Lasem 1, saya bakal melanjutkan bagian kedua. Pada bagian ini akan membahas (jangan berpikir pembahasan serius ya…) rumah indis – tentunya percampuran rumah gaya Fujian, Tiongkok – berdasarkan keterangan mbak Agni Malagina di National Geographic.

Lawang Ombo
Beberapa referensi yang saya baca, Lasem tak hanya dikenal sebagai kota bersejarah atau warisan dunia. Menurut para peneliti – terutama peniliti budaya dan sejarah – Lasem juga terkenal sebagai kota candu (opium) – bahasa keren sekarang narkoba. Pasalnya, Lasem merupakan kota perdagangan candu terbesar di Hindia Belanda era abad 18-19 M, diperkirakan rumah dibangun 1860-an. Pemilik bernama Liem Kok Sing, saudagar kaya raya. Salah satu bisnisnya adalah penyelundupan candu dan rumah Liem ini besar dan lebar.
(more…)

Yuk, Atur Strategi Blog dan Medsos Fashion

nanski joewono

Akhirnya menginjakkan kaki di Social Media Week 2016.

Kegiatan Social Media Week (SMW) Jakarta 2016 tak semua membahas teknologi, aplikasi, dan platform secara teknis. Ada juga diskusi teknologi yang menyasar anak hipster, anak kekinian, atau anak muda? Ya, Anda tahu lah maksud saya.

Salah satu acara buat anak muda dan/atau yang berjiwa muda adalah The Role of Social Media for Fashion Influencer. Dengan nara sumber Ayla Dimitri dan Anastasia ‘Anaz’ Siantar, acara SMW “mendadak” berubah. Gimana nggak berubah, kalau yang datang sore itu nara sumber dan peserta fashionable? Duh, jadi ingat tagline fashionable people, sustainable planet’. Hihihi.

Buat fashion addict, pasti nggak asing dengan dua nama di atas kan? Yes, mereka disebut pelopor fashion influencer atau fashion blogger di Indonesia. Ketika fashion blogger Indonesia belum menjamur seperti sekarang, mereka sudah mulai dari hal-hal sederhan, misalnya, sering foto pakai baju baru. Sekarang mereka tinggal memanen keuntungan, apalagi mereka menggunakan platform digital media dan saat ini perkembangan dunia digital seperti roket.
(more…)

Waktu yang Tepat Nelayan Melek Teknologi dan Informasi

Pasti kita sudah sering sekali mendengar, “Hasil laut Indonesia sangat besar, jenis ikannya banyak, tetapi nelayannya kok miskin?” Pernah dengar, kan?

Dalam rangka kemeriahan Social Media Week (SMW) 2016, saya akan menulis tentang nelayan dan teknologi. Karena topik tersebut dikupas – belum tuntas – di SMW oleh bu Gayatri Reksodihardjo Lilley bersama Tone – perusahaan aplikasi. Yuk, cuss.

Sore yang dingin di dalam Hall 8th Senayan City, bu Gayatri menceritakan pengalamannya bekerja di bidang perikanan. Ingatan saya langsung tertuju ke bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan. Mereka ini sama-sama perempuan, gaya boyish, nge-rock, rambut wavy, dan pekerjaan mereka berhubungan dengan air dan ikan.

Menurut bu Gayatri, perikanan Indonesia terbesar kedua di dunia. Produksi ikan tangkapan Indonesia juga bervasiasi, mulai dari teri, tuna, sampai ikan hias, semuanya ada loh. Tetapi, nasib para nelayan tidak sebanding dengan tangkapnya. Di negara kita tercinta ini, masih banyak nelayan tradisional. Maksudnya, mereka menangkap ikan secara manual, alat transportasi ke laut juga seadanya, kualitas penyimpnan ikan – setelah ditangkap – juga bisa dibilang ya-gitu-deh.
(more…)

Brand of Brothers by HH

Mas Handoko Hendroyono berbagi ilmu soal brand, marketing, dan sekelumit masalah pertanian dan perfilman.

Sebenernya, masih banyak informasi tentang Lasem. Tetapi, saya belum sempat edit foto, meskipun tulisannya sudah jadi (malas ngedit cin!). Yah, apa boleh buat, mending saya posting tentang dunia marketing dan digital. Kali ini, saya akan menulis tentang Brand of Brothers dari mas Handoko Hendroyono. Lelaki tinggi langsing ini sharing di forum anak muda di Depok. Tidak semua materi akan ditulis, soalnya kemampuan tikpet (ketik cepet) saya melemah gara-gara gawai layar sentuh (tahu kan apa yang saya maksud ini…).

Buat yang belum kenal, cek namanya di Google. Pasti ketemu deh. Hehe. Saya rasa ilmu mas Handoko penting untuk dibagikan, karena sangat relevan saat ini. Ya, brand (jenama) menjadi penting ketika produsen ingin menjual barang/jasa ke pasar dan jenama diingat terus oleh konsumen. Tetapi bagaimana membangun sebuah brand? Sulit atau tidak? Langsung simak di bawah ini, deh.

Menurut mas Handoko, membuat brand seperti membentuk sebuah band, begitu juga sebaliknya. Ada kemiripan. Seriously berat.
(more…)

[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (1)

nanananski

Rumah bergaya Indis banyak dijumpai di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sudah sejak lama, saya ingin sekali ke Lasem. Keinginan ini sudah ada pasca melihat Ca Bau Kan, film karya Nia Dinata. Salah satu lokasi syuting filmnya di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Nah, mumpung ada cuti akhir tahun, saya dan suami merealisasikan untuk Jalan-jalan ke Lasem. Mungkin destinasi Lasem terdengar aneh, tetapi banyak orang yang ke sini loh. Nggak percaya? Cek saja #lasemheritage dan #savelasem di Twitter atau Instagram.

Oks, perjalanan kami saya ke Lasem diawali dengan menghubungi tour guide. Ia adalah mas Pop (Baskoro), putera daerah asal Rembang, yang punya segudang cerita tentang Rembang dan Lasem. Rugi kalo nggak ikut open trip mas Pop.

Saya berangkat dari rumah ke terminal Rawamangun dengan tekad kuat dan optimisme pada malam Natal (24/12/2015). Sesampainya di sana, nasib saya terkatung-katung. Jadwal berangkat pukul 16.00, motor menjadi 20.00 WIB. Setelah itu, bus Pahala Kencana yang saya tumpangi (Jakarta-Malang) menjemput penumpang di Bekasi dan berhenti lama sekali. Usut punya Usut, sepanjang tol Cipali/Cikampek macet total. Jadi, kru bus lebih baik berhenti sejenak dari kemacetan the longest weekend daripada terjebak nostalgia di jalan raya. Eww.
(more…)