[Review] Fury: Ingatkan Lone Survivor, The Hurt Locker, & Life is Beautiful

Fury

Salah satu film yang ditunggu-tunggu tahun ini adalah FURY. Film garapan David Ayer mendaulat Brad Pitt sebagai aktor utama, Don ‘Wardaddy’ Collier.

Namun Pitt tidak sendiri. Ia juga ditemani oleh Logan Lerman (Norman Ellison), Shia LaBeouf, (Boyd Swan), Jon Bernthal (Grady Travis), dan Michael Pena (Trini Garcia). Tentunya masih banyak pemain pendukung lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Tapi, salah satu aktor pendukung adalah Scott Eastwood, anak Clint Eastwood yang ganteng dan berbadan tegap. Ia sempat disorot beberapa detik, saat adegan ditangkapnya prajurit SS Nazi.

Fury merupakan film yang menceritakan Perang Dunia II, ketika tentara Amerika menyambangi Jerman. Mereka menghadapi pertempuran sangat sengit dan kejam. Menurut Wardaddy, dalam perang tak ada benar dan salah. Yang ada adalah kita habisi mereka atau mereka menghabisi kita, tak peduli anak-anak dan perempuan.

Melihat film ini, saya menjadi ingat tiga film berlatarbelakang perang lainnya. Lone Survivor, The Hurt Locker, dan Life is Beautiful. Karena Fury punya kemiripan dengan ketiga film itu. Apa saja persamaan di antara mereka?

Fury Vs Lone Survivor
Lone Survivor (2014) adalah film besutan Peter Berg yang menceritakan kegagalan US Navy SEAL dalam misi counter-insurgent Operation Red Wings, di mana empat orang tim SEAL mengintai dan mengawasi tim pemimpin Taliban, Ahmad Shah.

Mengambil latar belakang perang Afghanistan, Lone Survivor menampilkan adegan berondongan tembakan, kucuran darah dari anggota tubuh, sampai muka bengab para aktor. Scene per scere memberikan kejutan bagi penonton – kalau saya sih deg-degan dan takut, oke nggak penting. Ditambah lagi, satu-satunya tentara tersisa digambarkan sangat frustrasi dan putus asa di tengah tanah Afghanistan. Beruntung, ia ditolong oleh orang Afghan anti-Taliban. Ini kisah nyata berbungkus film Hollywood.

Hal itu juga ada di Fury. Fury menampilkan tumpukan mayat di truk, potongan tubuh berceceran, bahkan ada mayat yg dilindas tank dan dibakar, serta muncratan darah hasil tembakan so clearly. Very very clearly. Menjijikan. Saya rasa untuk film sebesar Fury, tak perlu hal itu diperlihatkan, meski (mungkin) kenyataannya demikian.

Persamaan Fury dan Lone Survivor adalah satu orang selamat! Mungkin film-maker Amerika berkeyakinan bahwa orang baik selalu ada jalan atau orang baik dengan niat baik dilindungi Tuhan dan dibukakan jalannya.

Di luar itu, this movie is not look like Second World War. Malah seperti perang masa kini. Karena tembakannya saja seperti laser merah dan hijau, malah mirip pedang lightsaber. Hairstyle dan style mereka tak seperti dandanan orang zaman 1945.

The Hurt Locker

Fury Vs The Hurt Locker
Meskipun Fury berseting PD II dan The Hurt Locker (2008) menceritakan perang Irak, tapi keduanya punya persamaan. Yaitu ada satu tentara mengalami trauma atau bahasa kerennya adalah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

PTSD terjadi jika seseorang terpapar satu atau lebih peristiwa traumatis. Misalnya saja pelecehan seksual, peperangan, kecelakaan serius, serta ancaman akan kematian. Siapa saja bisa terpapar ini, baik warga sipil maupun tentara. Di UK dan US, banyak veteran perang yang mengalami PTSD.

Nah, di Fury ada Norman (Lerman) mengalami ketakutan mendalam karena melihat potongan tubuh berceceran. Apalagi saat dirinya disalahkan karena menyebabkan terbunuhnya tentara US oleh Nazi, lalu berturut-turut dipaksa membunuh salah seorang prajurit Nazi, dan menyaksikan “pacar” meninggal karena bom. At the end, ia menyerah, marah, dan ingin keluar dari peperangan. Tapi tidak mungkin, Trini mengingatkan bahwa itulah pekerjaan yang harus ia lakukan. Jadi bisa dipastikan, Norman mengalami trauma ke PTSD.

Karakter Owen Eldridge (Brian Geraghty) di The Hurt Locker yang tergabung dalam Explosive Ordnance Disposal Team atau tim penjinak bom mengalami trauma. Karena sebelumnya, ia melihat temannya, si penjinak bom, meninggal terkena ledakan bom di hadapannya. Ada rasa marah, cemas, sampai uring-uringan saat bekerja dan off duty, tapi ia menolak ketika diajak sharing psikiater-tim medis tentara. Psikiater tahu kalau Owen mengalami PTSD, tapi Owen tak mau terbuka.

Owen semakin gusar ketika masuk orang baru sebagai penjinak bom lain, yaitu William James (Jeremy Renner). William ini nothing to lose, bahkan menurut Owen cenderung ceroboh dan tak mempedulikan SOP. Sampai akhirnya, saat mereka bertugas, psikiater meninggal dan Owen terluka karena “kecerobohan” William.

Well, akting Norman dan Owen sebagai “korban” PTSD cukup mengesankan. Tapi Owen menampilkan rasa gusar, cemas, jengkel, sampai frustrasi dengan baik. Meski demikian, akting Norman tak bisa disepelekan.

Life is Beautiful/Miramax

Fury Vs Life is Beautiful
Apa hubungannya film perang dengan holocaust? Apakah hubungannya karena sama-sama dijajah Nazi? Ya, itu benar. Namun, yang saya soroti di sini adalah Nazi digambarkan sebagai kelompok kejam tapi memiliki sisi “kemanusiaan”.

Untuk lebih jelasnya begini….

Life is Beautiful (La Vita e’ Bella) (1997) adalah film tragicomedy-drama Italia yang dibintangi oleh Roberto Benigni dan Nicoletta Braschi – Braschi adalah¬†istri Benigni. Ketika itu, Nazi sukses menancapkan taring kekuasaan di Italia. Mereka menyingkirkan semua orang keturunan Yahudi ke kamp konsentrasi, termasuk Guido Orefice (Benigni).

Di kamp konsentrasi, semua orang murung, dipaksa kerja rodi, makan tak enak, mereka diperlakukan seperti budak. Tapi Guido tak mau murung. Ia berusaha menghibur anaknya di tengah jajahan Nazi. Kepada anaknya, Guido bilang bahwa mereka sedang bermain untuk mendapatkan sebuah tank dan makanan enak. Guido bisa becanda di tengah perang. Suatu saat, Guido tertangkap prajurit karena ketahuan keluar kamar. Lalu dia digiring ke daerah gelap, kemudian dor! Padahal kalau di film The Boy in The Striped Pajamas, kalau orang Yahudi melakukan kesalahan kecil langsung bag-big-bug, mata bengeb-bengeb, hidung patah, badan biru-biru. Perlakuan Nazi berbeda, padahal kedua film mengambil era yang sama.

Sehingga tak heran, kalau film yang meraih piala Oscar ini menuai kritik. Karena film tidak menceritakan hal semestinya, yaitu Nazi digambarkan tak begitu kejam. Selain itu, kritikus menilai bahwa tak seharusnya masalah serius tentang pembantaian umat manusia dikomedikan. Meski begitu, film ini berdasarkan kisah nyata sang sutradara saat masih kecil.

Di Fury, lebih tepatnya di scene terakhir, Norman sembunyi di bawah tank. Sebenarnya, ada salah seorang tentara Nazi tahu Norman sembunyi dan masih hidup. Tapi tentara itu cuma senyum dan meninggalkan begitu saja. Tidak membunuh Norman? Unsur kemanusiaan kah?

Sudah, sampai di situ saja? Masih ada lagi.

Nicholas Milton dari The Guardian mewawancarai Bill Betts. Ia adalah veteran perang yang bertugas sebagai operator radio untuk tank Sherman. Betts mengatakan bahwa tank Sherman US tidak bisa mengalahkan tank Tiger Jerman. Sebagai perbandingan, Betts menjelaskan Sherman memiliki berat 33 ton, 75 mm senjata. Tiger berbobot 54 ton, 88 mm senjata, dan tebal besi 3,9 inchi. Betts tidak setuju dengan Fury yang menggambarkan Sherman menang melawan Tiger. Tank Sherman sangat sulit “meng-keok-an” Tiger.

I thought the film showed accurately how tough life could be in a tank, but the final scene where the crew hold out against a battalion of Waffen SS troops was too far fetched. The Germans seemed to be used as canon fodder. In reality they would have been battle-hardened and fanatical troops who would have easily taken out an immobile Sherman tank using Panzerfausts (an anti-tank bazooka). They also seemed to have an inexhaustible supply of ammunition and fuel. A Sherman tank only does five miles to the gallon so I think they would have run out long before the final showdown.

Apapun maksud film-maker di atas, Fury layak ditonton. Di sini, kita bisa mendapatkan perspektif tentang hubungan atasan dan bawahan. Leader selalu melindungi karyawannya apapun yang terjadi. Mereka bahu-membahu demi kehormatan negara. Mereka juga tak terima jika sebagian dari kelompoknya ditindas, itu sama artinya melecehkan bangsa mereka.

Ideologi adalah kedamaian, sejarah adalah kekerasan ~ Wardaddy – Fury


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>