Batik: ikatan kenangan, cinta, dan doa

Tidak ingat, kapan saya mulai menyukai batik.

Dulu, waktu saya masih awal SD, Ayah saya cerita kalau nenek (ibu dari ayah, biasa saya memanggilnya uti, singkatan dari eyang putri) sering membatik. Membuat batik sendiri (tidak membeli) adalah kegiatan yang jamak dilakukan perempuan kala itu. Mungkin sekitar 1940-1950-an lah, karena ayah saya lahir 1950. Saya rasa uti dari ibu saya juga melakukan hal tersebut. Gara-gara terobsesi dengan batik, saya (ngotot) sempat punya lilin malam (wax) dan canting, sampai sekarang masih punya. Rencananya sih, ingin membatik sendiri di rumah seperti yang dilakukan uti.

Tapi rencana tinggal rencana. Soalnya susah nyari kompor dan wajannya (sebenarnya sih malas banget). Keinginan itu terlaksana setelah puluhan tahun. Itupun bisa mbatik karena datang ke suatu acara yang terkait urusan kantor dan dbatik dilakukan pada selembar sapu tangan. Kembali soal kenangan batik, sejak menikah saya mulai mengoleksi kain Nusantara terutama batik. Entah kenapa, saya seperti punya keterikatan dengan batik. Bahkan saya punya batik estafet, maksudnya batik yang dimiliki uti – dikasih ke ibu saya – lalu diberikan ke saya. Tp kain itu nggak utuh lagi, malah saya jadikan dress.

Dalam rangka Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2016, saya akan menulis soal batik, khususnya Batik Lasem. Tulisan ini saya buat sebagai tanda hormat kepada leluhur, seniman batik, pencinta dan kolektor batik, hingga penjual batik.
(more…)

[Review] Burung-Burung Manyar: Mencintai Indonesia Dengan Cara Berbeda

Burung-Burung Mayar (dok. anthropologia8.blogspot.com)

Burung-Burung Mayar (dok. anthropologia8.blogspot.com)

Entah kenapa, saya susah melupakan novel ini. Novel yang membuat saya melayang dan terjebak suasana romantis, tapi juga gemas. Saat blog walking, saya membaca sebuah blog yang banyak mengulas tentang tulisan Y.B. Mangunwijaya atau akrab disapa Romo Mangun, termasuk novel Burung-Burung Manyar ini.

Adakah yang mencintai Indonesia lebih dari Teto? Ini pertanyaan retoris, bukan karena kita semua pasti tahu jawabannya, tapi karena terlalu sulit untuk dijawab. Apa itu cinta dan apa itu Indonesia?

Teto merupakan tokoh utama dalam novel Romo. Ia adalah lelaki blasteran Jawa – Belanda. Ayahnya orang Jawa yang jadi tentara Belanda, Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), asli lulusan Breda. Ibunya orang Belanda totok, walaupun Teto tidak yakin. Karena Mami “sangat cantik” dan “tak punya sistem pendidikan yang berdisiplin” (hal. 5).
(more…)