[Foto] Deretan Cashew Cookies: Reguler dan Bebas Gluten

Beberapa bulan lalu, saya kerap membuat cashew cookies (kukis kacang mete). Sebelum berkutat dengan gluten free, saya membuat cashew cookies reguler alias menggunakan tepung terigu, it means gluten. Nah, sejak getol menemukan komunitas dan bahan-bahan gluten free (bebas gluten), saya lebih sering uji coba resep.

Di sini, saya tidak akan membahas bahan dan cara membuat cookies. Karena Anda bisa menemui resep gluten free cookies di internet, banyak sekali. Dalam tulisan kali ini, saya hanya memperlihatkan foto-foto cookies yang pernah saya buat. Ada yang jelek, lumayan, dan nggak menarik sama sekali. Gagal dan berhasil adalah dua hal yang harus kita hadapi saat memasak (entah cooking atau baking). Tapi percayalah, kukis-kukis itu endes marindes.

Regular Cashew Cookies

Cookies ini terbuat dari tepung terigu, margarine, gula pasir, telur, dan mete yang melimpah. Ada beberapa bagian cookies yang mendapatkan sapuan kuning telur di permukaan (top coating) terlalu banyak. Ada pula yang gosong.

(more…)

Tipe Netizen yang Menyebalkan hingga Menyenangkan, Anda Termasuk yang Mana?

nanskijoewono

Unggahan foto seperti menu makan ini justru lebih populer dibanding pemiliknya

“Ini kan akun gue, jadi gue bebas mau share apa aja,” kata seorang teman menyebalkan kepada saya.

Saya yang mengkritik postingannya –postingan yang saya anggap “memicu” kebencian– cuma bisa diam. Males komentar lagi, sis.

Ya, beginilah era perkembangan teknologi diikuti pamor media sosial (medsos — Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat, dll) makin nge-hits. Ada banyak netizen –dalam hal ini diartikan sebagai pengguna medsos– yang memanfaatkan medsos secara benar. Tapi tak sedikit yang gagap dan bodoh. Mereka pikir, mereka bebas melakukan apa saja dengan medsos. Padahal tak segampang itu, justru penggunaan medsos atau platform digital lainnya membutuhkan tanggung jawab ekstra.

Semakin teknologi berkembang dan memudahkan manusia, tuntutan bertanggung jawab semakin berat ~ Nansays.

(more…)

Brand of Brothers by HH

Mas Handoko Hendroyono berbagi ilmu soal brand, marketing, dan sekelumit masalah pertanian dan perfilman.

Sebenernya, masih banyak informasi tentang Lasem. Tetapi, saya belum sempat edit foto, meskipun tulisannya sudah jadi (malas ngedit cin!). Yah, apa boleh buat, mending saya posting tentang dunia marketing dan digital. Kali ini, saya akan menulis tentang Brand of Brothers dari mas Handoko Hendroyono. Lelaki tinggi langsing ini sharing di forum anak muda di Depok. Tidak semua materi akan ditulis, soalnya kemampuan tikpet (ketik cepet) saya melemah gara-gara gawai layar sentuh (tahu kan apa yang saya maksud ini…).

Buat yang belum kenal, cek namanya di Google. Pasti ketemu deh. Hehe. Saya rasa ilmu mas Handoko penting untuk dibagikan, karena sangat relevan saat ini. Ya, brand (jenama) menjadi penting ketika produsen ingin menjual barang/jasa ke pasar dan jenama diingat terus oleh konsumen. Tetapi bagaimana membangun sebuah brand? Sulit atau tidak? Langsung simak di bawah ini, deh.

Menurut mas Handoko, membuat brand seperti membentuk sebuah band, begitu juga sebaliknya. Ada kemiripan. Seriously berat.
(more…)