[Jajan] Mangut: Antara Nostalgia dan Citarasa Ikan Asap

Bagi orang Jawa Tengah dan Yogyakarta atau mereka yang tinggal cukup lama di kedua daerah tersebut, pasti tahu tentang Mangut. Mangut ya, bukan memanggut atau anggut.

Mangut adalah sayur bersantan dengan bumbu dapur (bawang merah dan putih, kencur, jahe, kunyit, cabai merah dan hijau, dll), santan, dan ikan asap (ikan pari (iwak pe), lele, manyung, gabus, dll yang diasap atau panggang secara tradisional). Sekilas tampilan mangut seperti lodeh, tapi rasanya pedas menyengat. Sayur ini banyak dijumpai di warung makan sekitar Jateng dan Yogya terutama daerah Pantura (Semarang, Kudus, Pati, Rembang). Karena kuliner ini butuh ikan dan wilayah pesisir penghasil keluarga ikan.

Di ibukota, warung yang menjual mangut tak banyak. Perlu waktu dan energi buat menjangkaunya. Lebay! Tapi kalau Anda sedang berlibur di daerah tersebut, usahakan mencicipi mangut. Setiap daerah memiliki citarasa berbeda, begitu pula dengan ikan asap yang digunakan. Waktu saya berkunjung ke Semarang, teman-teman mengajak saya makan mangut Kepala Manyung Bu Fat.
(more…)

Waktu yang Tepat Nelayan Melek Teknologi dan Informasi

Pasti kita sudah sering sekali mendengar, “Hasil laut Indonesia sangat besar, jenis ikannya banyak, tetapi nelayannya kok miskin?” Pernah dengar, kan?

Dalam rangka kemeriahan Social Media Week (SMW) 2016, saya akan menulis tentang nelayan dan teknologi. Karena topik tersebut dikupas – belum tuntas – di SMW oleh bu Gayatri Reksodihardjo Lilley bersama Tone – perusahaan aplikasi. Yuk, cuss.

Sore yang dingin di dalam Hall 8th Senayan City, bu Gayatri menceritakan pengalamannya bekerja di bidang perikanan. Ingatan saya langsung tertuju ke bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan. Mereka ini sama-sama perempuan, gaya boyish, nge-rock, rambut wavy, dan pekerjaan mereka berhubungan dengan air dan ikan.

Menurut bu Gayatri, perikanan Indonesia terbesar kedua di dunia. Produksi ikan tangkapan Indonesia juga bervasiasi, mulai dari teri, tuna, sampai ikan hias, semuanya ada loh. Tetapi, nasib para nelayan tidak sebanding dengan tangkapnya. Di negara kita tercinta ini, masih banyak nelayan tradisional. Maksudnya, mereka menangkap ikan secara manual, alat transportasi ke laut juga seadanya, kualitas penyimpnan ikan – setelah ditangkap – juga bisa dibilang ya-gitu-deh.
(more…)