Karyawan (Sibuk) Bisa Terapkan Pola Hidup Sehat, Kok!

Anda tak akan menyadari kesehatan itu penting sebelum jatuh sakit ~ Nansays.

Pada 2012 atau 2013, saya pernah menyambangi sebuah perusahaan yang memproduksi dan menjual produk penunjang kesehatan di Pulogadung. Saat itu saya masih bekerja di kantor lama. Ketika ngobrol dengan beberapa karyawan, saya jadi berpikir, “Wah kesehatan karyawan di sini diperhatikan. Enak nih.” Bagaimana tidak enak, kalau ada karyawan yang kegemukan difasilitasi olahraga (tersedia di kantor) dan boleh menikmati susu rendah lemak (produksi mereka juga sih).

Etapi, ada seorang teman yang bilang kalau kerja di sana ada plus-minus. Ya, namanya juga perusahaan, sama seperti manusia, pasti ada nilai lebih dan kurang. Nggak usah diperdebatkan soal itu, kalau diulas bakal panjang. Saya fokus pada kesehatan karyawan yang diterapkan oleh Nutrifood. Ya, kali ini saya membahas pola hidup sehat yang diterapkan Nutrifood untuk karyawannya. Anda tahu kan apa saja produk mereka?

Tropicana Slim, Nutrisari, HiLo, L-Men, dan teman-temannya merupakan jenama Nutrifood. Perusahaan eksis sejak 1979 dengan produk andalan gula jagung rendak kalori dan sekarang telah memiliki beberapa jenama. Kalau nggak salah ya, kalau salah, tolong tinggalkan komentar di kolom bawah, sis. Kebetulan beberapa hari lalu, CEO Nutrifood, Mardi Wu, mampir ke kantor tempat saya bekerja. Meski ia lebih banyak membahas soal employee engagement dan non-performance appraisal, ia mau membeberkan soal kesehatan karyawan. Kesehatan termasuk engagement juga kan, ya?
(more…)

[Jalan-jalan] “Membongkar” Rumah Indis di Lasem (2)

nanski joewono

Pintu masuk Lawang Ombo dari sisi samping. Konon, bangunan ini berdiri sekitar 1830-an dan di dalamnya terdapat nisan tertulis 1855.

Setelah menulis “Membongkar” Rumah Indis di Lasem 1, saya bakal melanjutkan bagian kedua. Pada bagian ini akan membahas (jangan berpikir pembahasan serius ya…) rumah indis – tentunya percampuran rumah gaya Fujian, Tiongkok – berdasarkan keterangan mbak Agni Malagina di National Geographic.

Lawang Ombo
Beberapa referensi yang saya baca, Lasem tak hanya dikenal sebagai kota bersejarah atau warisan dunia. Menurut para peneliti – terutama peniliti budaya dan sejarah – Lasem juga terkenal sebagai kota candu (opium) – bahasa keren sekarang narkoba. Pasalnya, Lasem merupakan kota perdagangan candu terbesar di Hindia Belanda era abad 18-19 M, diperkirakan rumah dibangun 1860-an. Pemilik bernama Liem Kok Sing, saudagar kaya raya. Salah satu bisnisnya adalah penyelundupan candu dan rumah Liem ini besar dan lebar.
(more…)

Brand of Brothers by HH

Mas Handoko Hendroyono berbagi ilmu soal brand, marketing, dan sekelumit masalah pertanian dan perfilman.

Sebenernya, masih banyak informasi tentang Lasem. Tetapi, saya belum sempat edit foto, meskipun tulisannya sudah jadi (malas ngedit cin!). Yah, apa boleh buat, mending saya posting tentang dunia marketing dan digital. Kali ini, saya akan menulis tentang Brand of Brothers dari mas Handoko Hendroyono. Lelaki tinggi langsing ini sharing di forum anak muda di Depok. Tidak semua materi akan ditulis, soalnya kemampuan tikpet (ketik cepet) saya melemah gara-gara gawai layar sentuh (tahu kan apa yang saya maksud ini…).

Buat yang belum kenal, cek namanya di Google. Pasti ketemu deh. Hehe. Saya rasa ilmu mas Handoko penting untuk dibagikan, karena sangat relevan saat ini. Ya, brand (jenama) menjadi penting ketika produsen ingin menjual barang/jasa ke pasar dan jenama diingat terus oleh konsumen. Tetapi bagaimana membangun sebuah brand? Sulit atau tidak? Langsung simak di bawah ini, deh.

Menurut mas Handoko, membuat brand seperti membentuk sebuah band, begitu juga sebaliknya. Ada kemiripan. Seriously berat.
(more…)