Lay’s Vs. Pringles sour cream and onion: Lebih enak mana?

Karena terobsesi dengan makanan –baking, kuliner, dan snacking– jadi kali ini, saya menulis soal makanan versus makanan. Lebih tepatnya adalah snack atau keripik kentang dari jenama tersohor. Lay’s dan Pringles rasa sour cream and onion. Sebenarnya, saya sudah lama sekali nggak makan makanan ber-micin. Tapi karena obsesi, ya mau nggak mau beli, makan, merasa enak, setelah itu mual. Hahaha. Well, ini reaksi tubuh saya, mungkin reaksi tubuh Anda berbeda.

Oiya, saya juga terobsesi dengan tayangan Buzzfeed Food, yang membandingkan makanan sama tapi merek berbeda. Oks, mari mulai versus antara Lay’s dan Pringles.
(more…)

Natural Bread Recipe by Wied Harry

nanski joewono

Hasil karya peserta kelas Natural Bread by Wied Harry. Semua roti tersebut less gluten, less sugar, no egss, dan menggunakan bahan alami seperti wortel dan kentang.

Hidup sehat itu bertahap, tidak langsung (gaya hidup) berubah semuanya ~ Wied Harry

Nama Wied Harry pasti tak asing di telinga buat penggemar kuliner Nusantara. Pria lulusan IPB ini jago mengenai kuliner, mulai dari pangan lokal, mengolah makanan, bahan natural dan/atau organik, food styling, praktisi food combining, manajemen pangan, apa lagi keahliannya? Ahh, banyak sekali. Yang pasti, asik banget kalau bisa “berguru” dengan pak Wied.

Pada Sabtu (12/03/2016) lalu, saya berkesempatan belajar dengan pak Wied di rumahnya, di daerah Bogor, Jawa Barat. Di sana, saya belajar soal membuat Natural Bread dan seluk-beluk bahan baku yang kita konsumsi sehari-hari. Mengapa harus natural bread?

Jadi begini, seperti kita tahu, di luar sana tak sedikit beredar roti berbahan baku tidak/kurang sehat. Untuk tetap menikmati roti dengan bahan baku berkualitas dan harga terjangkau, sebaiknya mengonsumsi roti vegan. Kalau roti vegan dirasa masih kurang mengundang selera — meskipun sehat, kita bisa mengurangi bahan lain atau membuat natural bread dengan perbandingan bahan natural versus semi natural itu 60% : 40%. Selanjutnya penggunaan bahan natural bisa ditingkatkan lebih banyak lagi.
(more…)

Tom Hardy: Antara Locke, Legend, dan The Revenant

Tom Hardy/mashable.com

Tom Hardy saat menghadiri premiere film The Revenant.

Sudah sebulan lebih, saya melupakan blog tercinta ini. Sebenarnya, saya nggak sibuk banget, tetapi selalu ada saja sandungan setiap kali ingin nge-blog. Paling mentok, saya mengisi laman Tumblr. Silakan kalau ingin buka akun Tumblr saya.

Well, kali ini saya ingin nge-blog soal film. Jangan mengharapkan tulisan ini seperti kritik film loh, jauh. Jauh dari harapan. Ini cuma tulisan iseng dari penggemar film, terutama film yang dibintangi aktor ganteng bin karismatik seperti Tom Hardy. Yup, sejak membintangi Inception (2010), nama Tom Hardy melambung tinggi. Apalagi setelah muncul dalam trilogi Batman, The Dark Knight Rises, Tom seperti roket. Padahal sebelumnya, ia sudah kerap muncul di serial televisi di UK dan US.

Karena aktingnya yang mengintimidasi, saya iseng ingin menulis tentang British actor ini. Saya menyoritu film Legend (2015), The Revenant (2015), dan Locke (2013). Siapa yang sudah nonton ketiganya? Film tersebut sangat luar biasa, bukan hanya Tom tetapi parapemain, naskah, sutradara, dan tentu saja kerja keras kru di belakang layar.
(more…)

[Review Rombongan] The Transporter Refueled, No Escape, Black Mass, Everest, Hotel Transylvania 2, & The Martian

As an amateur movie addict and film critic, I watch movies frequently. Nah, in 2015 September, I have seen six times at cinema. I see movie that I love, so no horror movie in my list.

Oks, saya sedikit menjelaskan tentang film yang saya tonton di atas. Mungkin tulisan akan bermuatan SPOILER. So watchout, spoiler’s alert.

www.screencrush.com

The Transporter Refueled

The Transporter Refueled
Genre: Action, crime, thriller
Actors: Ed Skrein, Ray Stevenson, Loan Chabanol, dll
Director: Camille Delamarre
Sinopsis: Seperti film Transporter sebelumnya, film ini menceritakan soal supir sewaan kelas Pertamax (kalau di sini supir Grab Bike kali ya…), Frank Martin (Ed). Suatu saat, ia harus melaksanakan tugas sebagai supir sewaan, yang menyewa dia adalah tiga perempuan berbahaya. Mereka berurusan dengan kepala gangster dan memaksa Frank untuk membantu. Jika Frank menolak, bapaknya (Ray) disandera dan diancam akan dibunuh. Mau tak mau, Frank pun harus turun tangan demi meloloskan sang ayah.

Plus: Tentu saja, ada drama antara klien Frank dan kepala gangster. Banyak adegan adu jotos, tabrak-tabrakan, dan tembak-tembakan selama
film. Seru? Ya, lumayan lah (daripada lu manyun).
Minus: Akting Ed kurang mumpuni sebagai supir yang jago berkelahi. Padahal akting Jason Statham (pemain sebelumnya) bisa dibilang pas-
pasan, ini malah dibawah pas-pasan. Namanya juga aktor baru. Malah akting Ray cakep. Lalu ada beberapa adegan yang nggak penting, misal ketiga klien tidak boleh memegang kendali mobil, mobil dibiarkan berjalan, sementara Frank berkelahi dengan angggota gangster di dekat mobil. Kan bisa ditabrak tuh anggota gangster. Mereka juga sering berkelahi, tetapi muka mereka masih cling! Bersih.
Grade: 1 dari 5
(more…)

[Cerita Suami] Melihat Indonesia dari “Jauh”

IMG-20141004-00329

Cerita ini saya dapat dari suami beberapa bulan bahkan tahun yang lalu. Kebetulan ceritanya masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kenaikan BBM.

Jadi gini ceritanya…..

Suami saya yang sudah blusukan ke Sumatera dan Nusa Tenggara Timur cerita kalau mau melihat Indonesia jangan berpatokan ke (DKI) Jakarta atau pulau Jawa. Kenapa?

Di Jawa itu enak. Semua yang dibutuhkan ada. Rata-rata infrastruktur sudah baik. Semua jenis makanan ada di sini. Semua jasa yang nggak terpikirkan tersedia. Dari harga murah sampai mahal juga ada. Itu kata suami.

Coba bandingkan…waktu BBM masih Rp 4,5 ribu, di Nipah Panjang, Jambi sudah Rp 10 ribu, dan di Atambua, NTT mencapai Rp 12 ribu! Padahal pekerjaan mereka petani, penyadap karet, tukang ojek, ya tentu saja biaya hidup di sana agak tinggi dibandingkan daerah Jawa. Tapi, di Nipah Panjang banyak ikan dengan harga terjangkau!
(more…)