[Foto] Deretan Cashew Cookies: Reguler dan Bebas Gluten

Beberapa bulan lalu, saya kerap membuat cashew cookies (kukis kacang mete). Sebelum berkutat dengan gluten free, saya membuat cashew cookies reguler alias menggunakan tepung terigu, it means gluten. Nah, sejak getol menemukan komunitas dan bahan-bahan gluten free (bebas gluten), saya lebih sering uji coba resep.

Di sini, saya tidak akan membahas bahan dan cara membuat cookies. Karena Anda bisa menemui resep gluten free cookies di internet, banyak sekali. Dalam tulisan kali ini, saya hanya memperlihatkan foto-foto cookies yang pernah saya buat. Ada yang jelek, lumayan, dan nggak menarik sama sekali. Gagal dan berhasil adalah dua hal yang harus kita hadapi saat memasak (entah cooking atau baking). Tapi percayalah, kukis-kukis itu endes marindes.

Regular Cashew Cookies

Cookies ini terbuat dari tepung terigu, margarine, gula pasir, telur, dan mete yang melimpah. Ada beberapa bagian cookies yang mendapatkan sapuan kuning telur di permukaan (top coating) terlalu banyak. Ada pula yang gosong.

(more…)

Saat Terpikat Gluten Free Cookies

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengurangi konsumsi gluten. Tapi apa daya, saya lemah iman. Kalau melihat fire floss, pizza, atau cheesecake, langsung hap-hap-hap. Eits, ini bukan kasus Saiful Jamil ya! No.

Gluten adalah campuran protein yang ditemukan pada gandum (termasuk tepung terigu (roti, cake, sereal, pasta, pizza) ya, sis) dan padi-padian seperti barley (jali), rye (gandum hitam), oats, triticale, dan spesies plus hibrida sejenisnya. Nggak masalah kan dengan semua itu? Nggak sih. Tapi, makanan berbahan baku gandum dkk. susah dicerna.

Menurut University of Leon, Spanyol (bodycology.com), bakteri baik yang hidup di usus dapat memecah protein gluten, tetapi tidak semua orang memiliki bakteri tersebut. Karena konsumsi antibiotik, ekosistem tubuh bagian dalam terluka, dan stress bisa menghancurkan semuanya, semua. Lebay. Nah, protein gluten ini resisten terhadap enzim pencernaan. Akibatnya, seseorang akan menderita penyakit pencernaan, kembung, mual, diare, poop bau menyengat (kalau dipikir, semua poop kan bau), dan sensitif terhadap gluten. Gluten juga dikaitkan pada perilaku meluap-luap anak autis. Di samping itu, sistem pencernaan anak autis dengan non-autis itu berbeda. Kalau Anda ada pengalaman dengan diet gluten untuk anak autis, tolong tulis di kolom komentar. Agar kita bisa saling tukar informasi ya, sis. By the way, tak masalah jika Anda masih mengonsumsi makanan bergluten sampai sekarang. Namun, tak semua orang bisa menikmati karena kondisi kesehatannya.
(more…)