Tipe Netizen yang Menyebalkan hingga Menyenangkan, Anda Termasuk yang Mana?

nanskijoewono

Unggahan foto seperti menu makan ini justru lebih populer dibanding pemiliknya

“Ini kan akun gue, jadi gue bebas mau share apa aja,” kata seorang teman menyebalkan kepada saya.

Saya yang mengkritik postingannya –postingan yang saya anggap “memicu” kebencian– cuma bisa diam. Males komentar lagi, sis.

Ya, beginilah era perkembangan teknologi diikuti pamor media sosial (medsos — Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat, dll) makin nge-hits. Ada banyak netizen –dalam hal ini diartikan sebagai pengguna medsos– yang memanfaatkan medsos secara benar. Tapi tak sedikit yang gagap dan bodoh. Mereka pikir, mereka bebas melakukan apa saja dengan medsos. Padahal tak segampang itu, justru penggunaan medsos atau platform digital lainnya membutuhkan tanggung jawab ekstra.

Semakin teknologi berkembang dan memudahkan manusia, tuntutan bertanggung jawab semakin berat ~ Nansays.

Selama saya menggunakan medsos, saya menjumpai netizen yang menginspiratif hingga menyebalkan. Kalau sudah sebal, saya unfriend, unfollow, atau block. Dari sana, saya tergelitik untuk mengklasifikasikan tipe-tipe netizen.

1. Haters
Kalau pemerintah, pejabat negara, lembaga swasta, dan perusahaan memiliki medsos untuk kepentingan masyarakat itu baik. Pasalnya, mereka wajib melayani kebutuhan masyarakat, ingin memperoleh feedback dari produknya, untuk meningkatkan kualitas kerja, plus mengontrol kinerja mereka.

Misalnya, “@CommuterLine kok berhenti di sinyal masuk Manggarai lama? Kenapa?” Pertanyaan tersebut langsung mendapatkan jawaban, “Mohon maaf atas ketidaknyamanan.” >>> Jawaban klasik si Admin, ketika jadwal Commuter Line terganggu.

Di sisi lain, medsos seperti ini justru menjadi lahan empuk barisan haters. Si mata mereka, apapun yang dilakukan pemerintah, istitusi, atau pejabat lakukan tetap salah. “Semua salah Jokowi!” Pernah baca statement itu, kan?

Kemunculan haters kian subur ketika melihat akun medsos aktris, aktor, skuter (selebriti kurang terkenal), politisi, aktivis, atau figur publik lainnya. Nggak percaya? Coba ketik nama Maia, Ahmad Dhani, dan/atau Mulan Jameela di Twitter. Anda akan menemui makian sekaligus pujian. Akhir-akhir ini banyak beredar artikel, status, meme soal bakal calon DKI 1 (Gubernur DKI Jakarta). Die hard haters pasti membawa isu agama dan ras untuk menjelek-jelekkan si Petahana (incumbent), yang disinyalir akan maju sebagai balon DKI 1.

Btw, jenis haters juga bermacam-macam loh. Ada haters murni, bayaran, ikut-ikutan, sampai haters palsu. Mereka datang dari golongan awam, karyawan, dan ada pula pejabat. Iya, pejabat. Pejabat negara yang digaji dari pajak negara, pajak berasal duit rakyat. Salah satu contohnya Dubes Indonesia untuk Jepang –adik Menteri Kehakiman dan HAM periode 2001-2004, kebetulan orang ini ingin maju sebagai balon DKI1– berkomentar rasis dan ditengarai black campaign terhadap Ahok. Yah, haters memang menyebalkan.

2. Oportunis
Tipe netizen ini paling menyebalkan. Kemarin menjelek-jelekkan si A, sekarang puja-puji si B alias lawan si A. Bisa juga si oportunis ini selalu membela si B, karena ia bisa mendulang pundi-pundi rupiah lewat memaki A, atau B menawarkan keuntungan yang lumayan. Dari pada lu manyun kan, ya? Oks, hempas manja.

3. Kritikus idealis
Nah, netizen jenis ini biasanya musuh utama haters. Bagi kritikus idealis, pejabat atau politi atau pemerintah atau siapalah harus mengemban tugas melayani masyarakat, tidak korupsi, toleransi, tanpa melihat perbedaan agama, suku, pilihan seksual. Intinya mengacu pada UUD 1945 dan Pancasila, plus memberikan pembanding kondisi negara lain dengan persoalan yang sama dan analisa –analisa ini penting loh, sis– meskipun biasanya panjang banget, hehe.

Kritikan mereka bisa soal apapun, misalnya kebijakan pemerintah pusat/daerah, statement menteri, mengaburkan sejarah negara, persoalan proletar-korporat, dll. Netizen kritikus idealis juga sering “perang” dengan haters atau kritikus pengeluh — akan dibahas selanjutnya. Karena mereka menganggap kalimat kritikus idealis super duper pedas, kadang disebut nyinyir. Mungkin juga mengusik ketentraman mereka.

4. Kritikus pengeluh
Mereka mirip kritikus idealis, tapi postingan selalu disisipi keluhan atau makian. Tanpa berbuat apapun atau minimal membuat perubahan di lingkungannya. Sebenarnya senang sih membaca postingan para kritikus itu, tapi kalau ngeluh atau maki-maki mulu kan malas juga bacanya. Terkadang, kalimat negatif itu bikin aura negatif bagi pembacanya, loh. Tapi perannya di masyarakat bisa untuk kontrol pemerintah.

5. Inspirator
Salah satu alasan saya bermain medsos adalah adanya inspirator. Saat membaca postingan mereka, hati dan pikiran kita sejuk, tentram, tenang. Tipe inspirator misalnya postingan Gus Mus (Mustofa Bisri), Wied Harry, alm. Mgr. Johannes Pujasumarta, Just Try and Taste, atau Tastemade. Menyenangkan.

6. Motivator
Malas bahas soal ini. Karena motivator sekarang kebanyakan jualan agama dan insecurity. Padahal apa yang mereka bicarakan, belum tentu mereka lakukan. Motivasi mereka semata untuk memperkaya diri sendiri dan tim. Lagian motivasi cara mereka nggak mempan buat orang seperti saya.

7. Sembrono
Baik haters maupun kritikus idealis pernah kejeblos dalam lembah ke-sembrono-an. Mulai dari Dian Sastrowardoyo, Nikita Mirzani, Tifatul Sembiring, Yusuf Mansur, Ratna Sarumpaet, jurnalis senior, sampai pakar telematika pun pernah salah! Eh, sembrono!

Ke-sembrono-an ini bisa terjadi karena figur publik mengunggah status, foto, atau video hoax, blunder, bahkan sensitif. Bukan soal anggota tubuh atau tes kehamilan ya… Yah, meski si pemilik akun sudah memperingatkan “jangan screen capture statusku”, tetap saja bisa di-screen capture. Si pemilik akun pun menjadi “bulan-bulanan” haters, isu berkembang ke mana-mana, padahal ia cuma share cerita teman –yang belum terbukti kesahihannya– di medsos. Niatnya hanya berbagi cerita di antara teman dekat melalui Path. Tapi ingat, Path termasuk medsos loh.

Dari namanya saja medsos, media sosial, berarti sarana berkomunikasi yang berkenaan dengan masyarakat dan masyarakat kita ini kepo maksimal. Jadi peringatan dalam bentuk apapun di medsos atau internet orak ngefek. Lah wong UU ITE juga belum membuat bisa “menakut-nakuti” netizen.

Jadi, kalau posting-an Anda tidak mau di-screen capture dan/atau disalahgunakan, jangan unggah tulisan, status, video, atau foto di medsos, apalagi mengunggah hal-hal sensitif. Karena sekali Anda mengunggahnya, semesta internet telah merekamnya!

Think twice before you post ~ Nansays.

Catatan: Tipe di atas dibuat berdasarkan pengalaman penulis. Jika Anda tak setuju, itu hal biasa dan tidak masalah.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>