Untuk Para Pengendara Kendaraan Bermotor

Slipi

Dear Para Pengendara Kendaraan Bermotor,

Pada Kamis (16/10/2014) malam, saya pulang kantor dengan dua orang teman. Kantor saya berada di Jl. S. Parman Kav 77, Jakarta. Namun letak kantornya persis di depan Jl. Bridjend Katamso. Tetapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya adalah ketika saya dan dua orang teman (satu laki-laki dan perempuan) menyeberang jalan di ZEBRA CROSS. Seperti hari biasanya, kondisi jalan ramai dengan kendaraan bermotor (mobil dan motor). Tetapi, kami menyeberang jalan sangat hati-hati. Kami sudah melambaikan tangan, tanda kendaraan harus berjalan pelan. Yang terjadi tidaklah demikian.

Saat salah satu teman (laki-laki) saya maju paling depan, kami yang perempuan mengikutinya. Kendaraan TAK ADA yang mau mengalah. Mereka malah mengendarai mobil dan motor mereka sangat kencang! Padahal, kami ada di zebra cross! Hak kami telah dirampas!

Suasana di flyover Slipi.

Ketika kami melangkah lagi, ada mobil citycar hitam melaju kencang. Kalau teman saya tidak mundur selangkah, mungkin ia akan celaka! Sangat kencang dan membunyikan klakson sangat nyaring. Mengapa pengendara mobil tersebut sangat egois???!!!

Pengendara kendaraan bermotor terkasih, dengan masalah di atas, saya mohon Anda mematuhi peraturan lalu lintas, termasuk tanda zebra cross yang fungsinya sebagai tempat untuk menyeberang jalan bagi pejalan kaki. Tetapi, kenapa Anda mengabaikan itu? Sudah bodohkah Anda? Atau memang Anda sama sekali tidak tahu peraturan lalin? Kalau tidak tahu, kenapa Anda bisa memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM)?

Saya sungguh tidak mengerti mengapa Anda berbuat seperti itu. Apakah Anda tak berpikir orang yang menyeberang adalah anak-anak Anda, istri Anda, ibu Anda, atau kakak-adik Anda? Anda tahu akibatnya jika Anda menabrak seorang pejalan kaki atau penyeberang jalan seperti kami? Atau jika sialnya Anda menabrak orang lain, Anda dengan gampangnya “damai” dengan kami dan polisi?

Flyover Slipi 2

Kejadian ini, sungguh membuat saya kaget dan deg-degan. Saya tak mau teman atau keluarga kecelakaan. Saya juga tidak ingin orang yang tak bersalah tertabrak kendaraan sialan Anda.

Anda harus tahu, saya pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Saya hampir tertabrak mobil, ketika menyeberang di zebra cross depan Universitas Gunadarma, Depok. Para pengendara kendaraan saat itu sangat egois, mereka mengendarai kencang sekali! Tak mempedulikan penyeberang jalan. Keterlaluan.

Bahkan sebelumnya, ada seorang perempuan meninggal karena menyeberang jalan di sekitar Jl. Margonda Raya, Depok. Ironisnya, sang penabrak langsung ngacir, tidak tanggung jawab!

Meski demikian, masih ada pengendara kendaraan yang mematuhi peraturan lalin, tak semuanya ngawur. Mereka yang mematuhi lalin yaitu: 1. jika ada polisi atau polisi wanita (polwan). 2. Memang masih ada pengendara yang peduli dengan penyeberang jalan. Saat ada pedestrian menyeberang, mereka dengan sadar berhenti sebelum zebra cross. Buat Anda yang telah melakukan hal di atas, saya ucapkan terima kasih atas kepatuhan terhadap lalin dan menghargai sesama pengguna jalan.

Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan untuk disiplin lalu lintas?

1. Selalu ada polisi di setiap zebra cross dan persimpangan jalan?
Jika pilihannya selalu ada, berarti kalau tak ada polisi tidak patuh? Perlu melatih disiplin dengan kehadiran polisi?

2. Memencet tombol lampu di tiang sebelah zebra cross?
Di Depok, tombol di tiang dekat SDN Pondok Cina rusak parah! Tidak bisa digunakan. Lagi pula tidak semua zabra cross dilengkapi tombol lampu.

3. Apakah kami, penyeberang jalan, harus membawa poster glow in the dark bertuliskan “Ini ZEBRA CROSS”?
Opsi ini sudah dalam daftar saya, tetapi belum saya eksekusi karena masih mencari toko cutting sticker.

4. Apakah kami perlu membawa pentungan orange atau pentungan karet milik Satpol-PP?
Kebetulan ayah saya punya dan tidak digunakan. Jadi, jika ada pengendara nakal dan mau berhenti ketika kami menyeberang, kami berhak memukulnya. Tapi ini tidak boleh dilakukan, karena main hakim sendiri.

5. Bantuan masyarakat sekitar?
Sepeduli apa mereka dengan kami? Memang ada yang mau menyeberangkan, tetapi tak setiap hari kan? Sementara saya setiap hari lewat lewat situ.

6. Memberitahu keluarga (orangtua, kakak, adik, om, tante, sepupu, dll), teman, sampai pacar tentang peraturan lalin dan saling menghargai pengguna jalan. Satu hal positif yang kita kirimkan ke satu orang dapat menularkan hal positif lainnya ke orang lain. Bayangkan, jika hal itu terjadi dan menghasilkan masyarakat yang sadar, waras, dan saling toleransi?

Bahkan ada pengendara motor yang melawan arus.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>