Yuk, Atur Strategi Blog dan Medsos Fashion

nanski joewono

Akhirnya menginjakkan kaki di Social Media Week 2016.

Kegiatan Social Media Week (SMW) Jakarta 2016 tak semua membahas teknologi, aplikasi, dan platform secara teknis. Ada juga diskusi teknologi yang menyasar anak hipster, anak kekinian, atau anak muda? Ya, Anda tahu lah maksud saya.

Salah satu acara buat anak muda dan/atau yang berjiwa muda adalah The Role of Social Media for Fashion Influencer. Dengan nara sumber Ayla Dimitri dan Anastasia ‘Anaz’ Siantar, acara SMW “mendadak” berubah. Gimana nggak berubah, kalau yang datang sore itu nara sumber dan peserta fashionable? Duh, jadi ingat tagline fashionable people, sustainable planet’. Hihihi.

Buat fashion addict, pasti nggak asing dengan dua nama di atas kan? Yes, mereka disebut pelopor fashion influencer atau fashion blogger di Indonesia. Ketika fashion blogger Indonesia belum menjamur seperti sekarang, mereka sudah mulai dari hal-hal sederhan, misalnya, sering foto pakai baju baru. Sekarang mereka tinggal memanen keuntungan, apalagi mereka menggunakan platform digital media dan saat ini perkembangan dunia digital seperti roket.

Ada yang sedang berjalan ke arah itu? Ayla dan Anaz bagi-bagi cara mengatur strategi memaksimalkan platform media sosial dan blog.

Konsisten
Kalau ingin blog atau media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, dll) dilihat orang, Anda harus konsisten mengunggah satu foto atau artikel setiap hari. Kalau blog mungkin bisa sebulan satu kali, karena blog biasanya berisi tulisan long form.

“Dari dulu sampai sekarang aku kasih satu tulisan di blog untuk satu minggu, di Instagram minimal posting satu foto untuk engaging orang,” kata Ayla, mantan fashion editor di salah satu majalah.

Be yourself
Jangan main-main di dunia serba digital saat ini. Maksudnya, era digital ini memungkinkan seseorang bertindak semaunya. Tetapi ingat, sekali kita salah posting dan langsung menghapusnya, bisa jadi posting-an itu sudah di-screen capture dan disebarkan ke mana-mana. Biar lebih aman, dua kali — kalau perlu tiga atau empat kali, asal jangan kebanyakan – berpikir sebelum mengunggah foto atau artikel. Yakin atau tidak? Bakal merusak citra kita kah?

Buat Ayla dan Anaz, mereka tak perlu menjadi orang lain. Just be yourself. Jadi diri sendiri saja. Boleh sih perfeksionis, tetapi jangan sampai membebani.

Karakter dan konsep
Semakin lama bermain di dunia digital, kita akan menemukan karakter. Mulai karakter isu yang diangkat, gaya bahasa, gaya berbusana, angle foto, sampai kostumisasi medsos atau blog. Dari sanalah, kita bisa merumuskan konsep dan orang-orang akan melihat itu ciri khas kita. Anggap saja kita ini adalah produk.

Berdasarkan pengalaman Ayla, awal bersentuhan dengan digital, ia belum memiliki konsep dan karakter. Namun, lama-kelamaan ia menemukannya termasuk konsep foto, angel, dan lainnya.

“Fotoku semua clean, kalau ada blur, aku koreksi lagi. Soalnya aku orangnya perfectionist. Dari awal aku memang udah punya konsep, tapi just go with the flow. Selain foto fashion, aku sering foto makanan karena doyan makan, kalau orang udah notice dengan gaya kita, kita akan dikenal,” cerita Anaz.

Komunikasi
Karena nama mereka sudah dikenal masyarakat, tak heran beberapa brand kondang menggunakan jasa mereka. Misalnya untuk mengulas tempat/barang blog, posting foto di Instagram, testimoni di Twitter, atau membuat video di YouTube.

“Sebelumnya, aku harus tahu produknya apa, campaign-nya apa, sesuai nggak sama personal aku. Kalau ada perbedaan, kami coba ngobrol, menetukan solusi. Intinya sih komunikasi,” bocor Ayla soal bisnis konten (endorse sis…).

Tim terpercaya
Buat Ayla dan Anaz, tak perlu tim khusus untuk pekerjaan ini. Ayla hanya punya satu asisten yang mengecek jadwal dan pacar buat jadi fotografer. Anaz cuma mengandalkan adik/kakak plus sopir pribadinya. Selain itu, pekerjaan mereka handle sendiri.

Sepertinya, hidup mereka enak ya? Foto-foto, pakai baju bagus, jalan-jalan ke pelosok Nusantara sampai luar negeri, makan di café kekinian. Eits, jangan salah sis. Semua hal itu juga butuh pengorbanan. Mereka banyak mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga. Sama seperti kita, kaum proletar. Rumput tetangga memang lebih hijau.

Catatan:
Anastasia Siantar
Memulai “karier” sebagai fashion blogger pada 2009. Saat itu, ia sering mengunggah foto-foto di www.lookbook.nu. Meski awalnya iseng, justru hal itu ia tekuni dan merambah ke blog dan medsos untuk menampung kontennya. Ia juga sempat ke Paris, Prancis, untuk belajar bahasa negara setempat, sekaligus mengembangkan skill menjadi fashion blogger.

Ayla Dimitri
Perjalanan sebagai fashion influencer dimulai ketika Ayla menjadi editor sebuah majalah fashion. Ia kerap mengunggah foto berhubungan fashion, food, dan traveling di medsos dan blog. Pada 2011, ia mulai fokus di ranah digital dengan memaksimalkan medsos dan video sharing sebagai medianya.


Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>